Wajib Dibaca Kasus Jessica Tanpa Ada Otopsi, Saksi, CCTV dan Perkap

Wajib Dibaca Kasus Jessica Tanpa Ada Otopsi, Saksi, CCTV dan Perkap

7314
0
SHARE
Jessica Kumala Wongso
Jessica Kumala Wongso

Jakarta, (WN) – Peluang terdakwa Jessica Kumala Wongso untuk dibebaskan oleh Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat sangat besar.

Karena selama di dalam persidangan terungkap bahwa kematian Wayan Mirna Salihin bukan karena racun zat Sianida. Hal itu disimpulkan karena tidak dilakukan otopsi oleh ahli forensik kepada jenazah Mirna.

Kedua, dari 17 saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) tidak ada satu orang-pun saksi-saksi mata yang melihat Jessica menaruh atau mencampur racun zat Sianida ke dalam gelas Mirna di kafe Olivier.

Ketiga, tidak ada bukti rekaman CCTV yang memperlihatkan Jessica menaruh racun ke dalam gelas Mirna saat dilakukan pemutaran di persidangan.

Keempat, penyidik Polda Metro Jaya dinilai telah melanggar Peraturan Kapolri no 10 tahun 2009 pasal 58 terkait pengambilan barang bukti keracunan dari Jenazah Mirna.

Otto Hasibuan, ketua tim pengacara Jessica Kumala Wongso mengatakan berdasarkan fakta-fakta hukum, kami yakin betul Jessica dibebaskan.

“Ditubuh Mirna tidak ada sianida karena tidak ada sianida, artinya bukan meninggal karena sianida dan alat bukti CCTV dalam sidang kasus tersebut tidak sah sesuai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas gugatan uji materi mantan Ketua DPR” ujar Otto Hasibuan, Jumat (7/10/2016).

Menurut Otto, semua saksi 17 orang dari Kafe Olivier telah mengaku tidak ada yang melihat secara langsung Jessica memasukkan sesuatu ke es kopi Mirna.

Jelas-jelas di tubuh Mirna tidak ditemukan ada racun Sianida. Jadi kalau tidak ada sianida saya tidak bisa bayangkan bagaimana jaksa merumuskan itu untuk menyatakan Jessica pembunuh, ujar Otto.

KUHAP menyebutkan bahwa alat bukti yang sah adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

“Jelas saksi tidak ada yang melihat, ahli menyebut tidak ada Sianida, petunjuk CCTV juga tidak memperlihatkan perbuatan pidana,” ujar Otto.

TANPA OTOPSI

Jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan ahli forensik dan toksikologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Budi Sampurna,

Di persidangan Budi Sampurna mengakui bahwa pihaknya tidak melakukan otopsi pada mayat Wayan Mirna Salihin.

Saat Jaksa bertanya kepada ahli patologi forensik dari Universitas Indonesia, Djaja Surya Atmadja, mengatakan kalau tidak dilakukan otopsi, tidak bisa menentukan penyebab kematian Wayan Mirna Salihin. JPU Ardito menanyakan hal tersebut kepada Djaja, dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (7/9/2016).

Kata Djaja, jika Jaksa ingin menentukan penyebab kematian Mirna, ya gali kubur Mirna, ujar Djaja.

TANPA SAKSI MATA

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi pegawai Kafe Olivier dalam persidangan. Sebanyak 17 orang saksi dari Kafe Olivier telah mengaku di persidangan tidak ada yang melihat secara langsung Jessica memasukkan sesuatu ke es kopi Vietnam milik Wayan Mirna Salihin.

Mereka diantaranya adalah, Aprilia Cindy Cornelia sebagai resepsionis, Marlon Alex Napitupulu sebagai pelayan, dan Agus Triyono yang juga pelayan.

TANPA BUKTI CCTV

Jaksa Penuntut Umum (JPU)  menghadirkan dua saksi ahli digital forensik, yakni Muhammad Nuh dan Christopher Hariman Rianto pada Rabu 10 Agustus 2016.

Christopher Hariman Rianto mengakui bahwa rekaman CCTV di Kafe Olivier tidak memperlihatkan bahwa Jessica Kumala Wongso menuangkan racun sianida ke dalam minuman Wayan Mirna Salihin.

Ada 11 aktivitas yang terekam kamera CCTV Kafe memperlihatkan Jessica berjalan di kafe, sedang garuk-garuk paha kanan dan benda bergeser.

Bahkan flash disk yang ketika dipakai dalam pemindahan data dari perekam video digital (DVR) tidak tercatat dalam berita acara pemeriksaan (BAP) sehingga disebut tidak sah. Karena flash disk bukanlah barang bukti yang asli dan sudah diedit ahli.

Merujuk putusan Mahkamah Konstitusi (MK) bahwa rekaman CCTV baru sah sebagai alat bukti kalau rekaman dibuat atas permintaan penegak hukum. Sedangkan CCTV di Kafe Olivier tidak atas permintaan penegak hukum.

TANPA PERATURAN KAPOLRI

Peraturan Kapolri (Perkap) No 10 Tahun 2009 terkait Pemeriksaan barang bukti keracunan di Labfor Polri dan/ atau di TKP tidak dilaksanakan penyidik Polda Metro Jaya terhadap mayat Wayan Mirna Salihin.

Dengan melanggar Perkab tersebut, penyidik sulit membuktikan kematian Mirna karena keracunan zat Sianida.

Adapun isi dalam pasal 58 yang disampaikan di persidangan menyebutkan, harus dilakukan otopsi terhadap orang meninggal karena keracunan dengan dilakukan pengambilan Lambung beserta isi sebanyak 100 gram, Hati sebanyak 100 gram, Ginjal sebanyak 100 gram, Jantung sebanyak 100 gram, Tissue adiposa (jaringan lemak bawah perut) sebanyak 100 gram, dan Otak sebanyak 100 gram. Selain itu, urine (25 ml), dan darah (10 ml). (Edward/Hermanto)

 

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY