Usut Penjual Ginjal, Polisi Geledah Klinik di Bandung

Usut Penjual Ginjal, Polisi Geledah Klinik di Bandung

514
0
SHARE

BANDUNG, (WN) – Kapolrestabes Bandung, Kombes Polisi AR Yoyol, membenarkan adanya penggeledahan sebuah klinik oleh Bareskrim Mabes Polri terkait kasus penjualan organ tubuh.

Penggeledahan klinik merupakan hasil pengembangan Bareskrim Polri yang telah menyelidiki para dokter yang diberitakan sepebelumnya oleh Harian Warta Nasional yang menyebutkan para dokter diduga terlibat dalam praktik penjualan organ ginjal manusia dan keterlibatan tiga rumah sakit (RS) yang diduga menjadi tempat dilakukannya operasi transplantasi ginjal terkait kasus tersebut.

“Masih dalam pendalaman tentang keterlibatan pihak rumah sakit dan dokter,” kata Kasubdit III Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Kombes Umar Surya Fana, di Mabes Polri, Jakarta, Rabu.

Menurutnya ada tiga rumah sakit yang diduga menjadi tempat dilakukannya operasi transplantasi ginjal terkait kasus tersebut. “Tiga rumah sakit di Jakarta, RS swasta dan negeri,” katanya.

Tujuh korban dalam kasus ini yakni HLL, IS, AK, SU, JJ, DS dan SN.

Umar mengatakan bahwa para korban tersebut umumnya berasal dari kalangan menengah kebawah diantaranya tujuh korban yakni HLL, IS, AK, SU, JJ, DS dan SN.

Para korban, kata dia, diberi imbalan antara Rp70 juta – Rp90 juta bila bersedia mendonorkan ginjal mereka.

Sementara tiga tersangka dalam kasus tersebut yang berhasil dibekuk Bareskrim adalah HS, AG dan DD.

HS ditangkap polisi di Jakarta. Sementara AG dan DD diringkus di Bandung, Jawa Barat. Dalam kasus ini, HS berperan sebagai penghubung ke rumah sakit. “AG dan DD berperan merekrut pendonor (korban),” katanya.

Umar menjelaskan, HS menginstruksikan AG dan DD untuk mencari korban pendonor ginjal.

Ia mengatakan, dalam kasus ini, penerima ginjal dikenakan biaya Rp225 juta – Rp300 juta untuk pembelian satu ginjal dengan uang muka sebesar Rp10 juta – Rp15 juta. “Sisa pembayaran dilakukan setelah operasi transplantasi dilakukan,” katanya.

Biaya tersebut, menurutnya, tidak termasuk biaya operasi transplantasi yang harus ditanggung oleh penerima ginjal.

Dalam kasus ini, HS meraup keuntungan Rp100 juta – Rp110 juta untuk setiap korban yang mau mendonorkan ginjalnya.

Sementara AG mendapat bayaran Rp5 juta – Rp7,5 juta setiap mendapatkan pendonor. Sedangkan DD mendapatkan upah Rp10 juta – Rp15 juta.

Atas perbuatannya, ketiga tersangka dijerat dengan Pasal 64 Ayat 3 UU Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan yang isinya “Organ dan atau Jaringan Tubuh Dilarang Diperjualbelikan dengan Dalih Apapun”. (An.TT/son)

 

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY