Tak Ada Sangsi, Peraturan Kapolri No:10/2009 Dibuat untuk Dilanggar ?

Tak Ada Sangsi, Peraturan Kapolri No:10/2009 Dibuat untuk Dilanggar ?

2750
0
SHARE
Otto Hasibuan, Pengacara Jessica Kumala Wongso

Jakarta, (WN) – Peraturan itu dibuat untuk dilanggar, itulah jargon yang selama ini ada di masyarakat kita. Jargon itu membuat banyak aturan yang bertujuan baik tetapi dalam pelaksanaannya tidak bisa berjalan dengan baik. Karena komitmen dari orang yang terlibat didalamnya rendah.

Seperti misalnya Peraturan Kapolri (Perkap) No 10 Tahun 2009 terkait Pemeriksaan barang bukti keracunan dilaksanakan di Labfor Polri dan/ atau di TKP. Karena peraturan Kapolri itu tidak diterapkan penyidik di Polda Metro Jaya dalam memeriksa korban meninggal Wayan Mirna Salihin atas dugaan keracunan zat Sianida.

“Kenapa para ahli Foreksi tidak menemukan zat sianida ada di beberapa organ tubuh Mirna ?, itu mungkin karena penyidik melanggar Perkap Kapolri. Kenapa sejak dulu ada peraturan itu untuk dilanggar ?,” ujar pengamat, Ketua Kobar, Eddy Pasaribu kepada Harian Warta Nasional, Kamis (6/10/2016).

Menurut Eddy, siapa yang akan disalah atas kondisi tersebut ? Jika memang peraturan yang dibuat disalahgunakan, bukan berarti aturan tersebut yang harus disalahkan.

Jika Kapolri tegas memberikan sangsi kepada anak buahnya dengan memberikan hukuman disiplin hingga pemecatan, saya nyakin penyidik yang melanggar Perkap tidak akan terulang lagi. Sebaliknya, jika tidak ada sangsi pelanggaran terhadap Perkap akan terus terjadi, tegasnya.

Ketua tim kuasa hukum Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan mengatakan, korban meninggal karena keracunan wajib memenuhi persyaratan teknis sesuai Perkap. Namun dalam kasus Wayan Mirna Salihin kenyataannya perkap telah dilanggar.

Dalam pasal 58 menjelaskan untuk pemeriksaan orang meninggal karena keracunan diharuskan memenuhi persyaratan formal seperti yang disampaikan Ahli Hukum Mudzakkir dipersidangan yang menyebut penyidik telah melanggar Perkab pasal 58, tegasnya.

Adapun isi dalam pasal 58 yang disampaikan di persidangan menyebutkan, “otopsi orang meninggal karena keracunan yang harus dilakukan pengambilan Lambung beserta isi sebanyak 100 gram, Hati sebanyak 100 gram, Ginjal sebanyak 100 gram, Jantung sebanyak 100 gram, Tissue adiposa (jaringan lemak bawah perut) sebanyak 100 gram, dan Otak sebanyak 100 gram. Selain itu, urine (25 ml), dan darah (10 ml).

Sebelumnya, Ahli Patologi Forensik Djaja Surya Atmaja, Profesor Beng Beng Ong dari Brisbane dan Michael Robertson ahli Toksikologi Forensik dari Australia, menyebutkan tidak ada ditemukan zat sianida di tubuh Mirna karena tidak dilakukan otopsi menyeluruh. (Jenry Sitorus/Edward)

 

 

 

 

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY