Tak Ada Bukti CCTV dan Saksi Tak Melihat Jessica, Berkas-nya Dipaksakan

Tak Ada Bukti CCTV dan Saksi Tak Melihat Jessica, Berkas-nya Dipaksakan

1937
0
SHARE
Hasil rekaman CCTV dan kesaksian para saksi dari Café Olivier
Hasil rekaman CCTV dan kesaksian para saksi dari Café Olivier

Jakarta, (WN) – Dari hasil persidangan sejak hari Rabu (27/7/2016) hingga Kamis (28/7/2016) tidak ditemukan bukti rekaman CCTV yang memperlihatkan tanda-tanda Jessica Kumala Wongso mencampur racun Sianida ke minuman Wayan Mirna Salihin.

Selain itu, dari semua saksi-saksi yang dihadirkan dari Café Olivier di persidangan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat juga tidak satu pun yang mengaku melihat Jessica mencampur racun Sianida ke Minuman Mirna.

Apakah berkas tersangka Jessica dinyatakan lengkap atau P21 itu karena terpaksa ?.

“Enggak ada istilah dipaksakan. Memenuhi unsur kami P21,” ujar Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejati DKI Jakarta Waluyo Yahya, Jumat (29/7/2016).

Ketua tim pengacara Jessica, Otto Hasibuan, kemarin meragukan cara kerja jaksa dalam menangani perkara itu.

Otto keberatan dengan barang bukti yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) di persidangan karena berbeda catatan tentang dengan barang bukti yang tercantum di dalam BAP.

JPU tidak bisa membedakan mana wadah gelas maupun botol yang berisi kopi bersianida dan mana yang berisi kopi pembanding.

Selain itu, kata Otto, keganjilan itu saat Rangga bercerita kepada dokter psikiater, bahwa dirinya didatangi seseorang yang mengaku polisi‎ dan dituding menerima uang Rp 140 juta untuk membunuh Mirna, tutur Otto.

Atas dasar keganjilan itu, Otto berpendapat, seharusnya polisi menggali pernyataan Rangga, Polisi harusnya menyita buku rekening. Bukan malah terus menggali fakta-fakta yang mengarah ke Jessica, ujar Otto, Kamis (28/7/2016).

Selain itu kata Otto, dalam isi  Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang diserahkan jaksa terungkap tidak ada laporan otopsi organ korban Wayan Mirna Salihi yang terkontaminasi sianida.

“‎Tidak ada pemeriksaan tentang sianida yang berasal dari tubuh korban. Yang diperiksa hanya gelas‎,” Otto.

Kata Otto, kan kalau orang mati mestinya diperiksa organnya. Di BAP tidak ada pemeriksaan sianida dalam tubuh‎, sambung Otto.

Atas dasar itu, Otto menilai tuntutan jaksa yang mengatakan Mirna tewas akibat keracunan sianida adalah salah besar.

Otto mempertanyakan kenapa tidak adanya pemeriksaan sidik jari pada barang bukti (BB) dalam kasus meninggalnya Wayan Mirna Salihin. “Kalau memang curiga pada Jessica, kenapa tidak memeriksa sidik jari?” ujar.

Menurut Otto, ketiadaan sidik jari justru akan memperkuat fakta bahwa tidak ada barang bukti yang cukup kuat untuk memberatkan Jessica. Padahal, cukup banyak benda yang bisa diperiksa sidik jarinya jika memang jaksa meyakini Jessica-lah yang memasukkan racun sianida di minuman Mirna.

“Ketidakcocokan antara yang tercantum di BAP dengan keterangan saksi sudah ketahuan.  Di BAP disebutkan, telah disita dua gelas dan satu botol. Namun, barang bukti yang dibawa ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri hanya dua botol dan satu gelas.

“Barang ini dari mana? Apa pindah-pindah. Tidak orisinal lagi?”. Di BAP juga dinyatakan barang bukti disegel, tetapi ternyata sudah dibuka di luar, bukan di depan hakim, tambahnya. (Wilson/Hermanto)

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY