Ribuan Warga Sorong Desak Jokowi Bebaskan Labora Sitorus dari Eksekusi

Ribuan Warga Sorong Desak Jokowi Bebaskan Labora Sitorus dari Eksekusi

161
0
SHARE

SORONG, (WN) – Ribuan warga Kabupaten Sorong, Papua dan karyawan PT Rotua melakukan aksi unjukrasa mendesak Presiden Joko Widodo (Jokowi) membentuk tim independen guna menginvestigasi rekayasa dan permainan di balik kasus Labora Sitorus, terdakwa 15 tahun penjara dan membebaskan Laboran Sitorus, dari eksekusi.

Informasi wartawan di Sorong menyebutkan, massa termasuk karyawan PT Rotua telah menggelar unjuk rasa akbar di Kejaksaan Negeri Sorong dan Lembaga Pemasyarakatan Sorong, Senin, (9/2/2014) kemarin.

Sedikitnya 500 orang menggunakan truk-truk didrop ke kantor Kajari Sorong. Sebagian menggunakan sepeda motor dan membawa sebuah ekskavator, mereka menuju kantor Kejari Sorong dan DPRD Kota Sorong.

Dalam aksi 5 jam itu, Fredy Fakdawer adik angkat sekaligus juru bicara Labora, kepada wartawan menyampaikan tujuh tuntutan. Salah satunya, meminta Presiden Joko Widodo membentuk tim independen guna menginvestigasi rekayasa dan permainan di balik kasus Labora.

“Benar, massa warga Sorong akan terus turun ke jalan, sampai Labora dibebaskan dari dakwaan. Karena itu kami meminta Jokowi membebaskannya. “Sudah jelas bahwa Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang diterbitkan kepolisian itu palsu, mengapa kemudian ia harus disidang dan mendapat hukuman? BAP itu juga bukan ditandatangani Labora, itu permainan polisi sendiri,” ujar Freddy.

Menurut Freddy, apanya yang mau dieksekusi. Labora punya salah apa, ini yang terus kita perjuangkan. Dalam berita acara pemeriksaan yang diterbitkan oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Papua, Labora disebut bekerja sebagai pegawai negeri sipil padahal anggota polisi. Ia yang seharusnya lahir di Banjarmasin, 3 November 1961, kenapa ditulis Medan, 27 Desember 1962.

“Labora juga bukan sarjana S-1 seperti disebutkan. Ia hanyalah lulusan SMA. Herannya adalah, ia dibilang tinggal di Jalan Basuki Rahmat Km 12, Kota Sorong, padahal seharusnya di Jalan Pandjaitan,” ucapnya.

“Selain itu, pangkat Labora juga bukan Brika tetapi Briptu dan didalam persidangan terungkap bahwa rekening Labora juga adalah Rp 17 juta dan bukan Rp 1,5 triliun, ini jelas jelas membuat warga Sorong marah hingga turun ke jalan karena sangat kecewa terhadap hukum di Indonesia, ujar Freddy.

Sementara itu, Dominggas Mirino, karyawan Labora, menegaskan Labora telah membantu banyak orang di Sorong. “Kami semua menolak Labora dipenjara. Kami siap berjuang demi Bapak Labora dan kami siap mati,, ujarnya.

Jaksa Agung M Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, mengatakan bahwa Labora tetap kekeuh menolak putusan pengadilan tingkat kasasi yang menghukumnya 15 tahun penjara. Selain itu, Prasetyo menilai warga Sorong yang melindunginya.

“Yang pasti dia berlindung dibalik warga masyarakat di sekitarnya dan pegawainya. Kita masih harapkan labora serahkan diri Ada Plan A, yaitu persuasif. Sampai sekarang belim ada deadline, masih persuasif. Kami belum tentukan, kami masih berharap supaya berlangsung damai dan baik. Apa boleh buat kalau tidak ada iktikad baik,” tutur Prasetyo. (Son)
3

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY