Rekening Gendut Calon Dirjen Pajak Belum Diusut

Rekening Gendut Calon Dirjen Pajak Belum Diusut

467
0
SHARE

JAKARTA, (WN) – Satu per satu, rekam jejak para calon dirjen pajak yang dijaring Panitia Seleksi (Pansel) Kementerian Keuangan mulai terkuak.

Setelah muncul indikasi adanya beberapa kandidat yang memiliki rekening gendut, penelusuran wartawan baik di internal maupun eksternal Ditjen Pajak (DJP) sepekan terakhir ini, ditambah informasi langsung dari masyarakat yang dikonfirmasi ke sejumlah pihak, menunjukkan rekam jejak lain para kandidat itu.

Ada kandidat yang pernah tertangkap sedang asyik berkaraoke saat melakukan kunjungan dinas ke salah satu daerah. Padahal, kunjungan dinas tersebut, yang tentu saja dibiayai negara, dilakukan antara lain untuk memperkuat integritas dan profesionalisme aparat pajak.

Hal ini juga dinyatakan oleh mantan Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Jayabaya, Azwardin Elnizar. Menurutnya, Rida memiliki kebiasaan yang tidak patut karena kerap keluar malam berkunjung ke tempat-tempat yang tidak lazim dikunjungi seorang pejabat dan itu dilakukan saat kunjungan dinas.

Tidak hanya itu, Azwardin melanjutkan, Rida terlibat dalam berbagai kasus besar yang pernah ditangani oleh KPK, namun yang bersangkutan selalu lolos dalam tahap berikutnya hanya bawahannya yang menerima hukuman.

“Rida Handanu tidak layak lolos ke tahapan berikutnya karena dia memiliki kebiasaan tidak patut ditiru yakni sering keluyuran malam mengunjungi tempat-tempat hiburan malam,” jelas Azwardin yang ditemui di Jakarta, Selasa, 30 Desember 2014.

Sementara itu, terkait Suryo Utomo, Azwardin memiliki catatan bahwa yang bersangkutan statusnya Pelaksana karena baru masuk dari cuti di luar tanggungan negara selama 3 tahun. Suryo pernah disebut memiliki rekening yang tidak wajar jumlahnya pada saat mencuatnya kasus Gayus Tambunan juga kasus proyek teknologi informasi di DJP.

Saat itu, sambung Azwardin, Suryo memilih hijrah ke Singapura dengan alasan melanjutkan pendidikan S3 dengan biyaya sendiri tanpa di tanggung oleh negara.

“Suryo Utomo pernah disebut memiliki jumlah uang yang tidak wajar di rekeningnya dan itu terjadi saat kasus Gayus Tambunan lalu, akhirnya dia ke Singapura dengan alasan study,” beber Azwardin.

Dia berharap Pansel bisa menemukan nama calon Dirjen yang memiliki integritas tinggi dan tidak pernah terkait kasus.

Sebagai informasi, Pemerintah lewat UU Nomor 9/Pansel/2014 mengatur tentang Permintaan Masukan Masyarakat terhadap Peserta Seleksi Terbuka Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Madya di Lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) 2014 dan 2015.

Seperti diketahui, Kementerian Keuangan menerapkan lelang jabatan untuk Dirjen Pajak. Jabatan ini menargetkan yang mengerti masalah perpajakan, untuk mengikuti lelang jabatan Dirjen Pajak ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Adapun syarat untuk melamar jadi Dirjen Pajak harus berpendidikan minimal S-2 di bidang perpajakan. Kemenkeu membuka seluas-luasnya untuk mendaftar menjadi Dirjen Pajak, tidak menutup kemungkinan bahwa dirjen pajak akan diisi oleh orang disekitar Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan yang juga menjabat Ketua Panitia Seleksi (Pansel) Dirjen Pajak Mardiasmo Proses seleksi Direktur Jenderal Pajak yang dilakukan Kementerian Keuangan sudah hampir selesai. Bahkan Panitia Seleksi (Pansel) mengaku sudah mengantongi sebelas nama kandidat.

“Tinggal sebelas orang,” ungkap Ketua Panitia Seleksi Dirjen Pajak Mardiasmo kepada para wartawan di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta, pekan lalu.

Walau mengaku sudah mengantongi sebelas nama kandidat, Mardiasmo enggan menyebutkan sebelas nama tersebut. “Ya jangan dulu lah. Ditahan dulu, sampai selesai semua. Sabar dulu,” ujar Wakil Menteri Keuangan itu.

“Tapi ada laki-laki, ada perempuan. Sebagian besar itu dari Kementerian keuangan. Ada beberapa yang dari ditjen pajak. Pasti tahulah,” ucap Mardiasmo.

Mardiasmo mengaku sebelas nama tersebut sudah diserahkan ke Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK), Badan Inteligen Negara (BIN) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Saat ini Pansel sudah menerima masukan dari PPATK dan BIN.

Berdasarkan informasi yang diperoleh indopos.co.id kesebelas nama itu sebagian besar calon Dirjen Pajak berasal dari lingkungan Direktorat Jenderal Pajak, yakni Catur Rini Widosari (Direktur Keberatan dan Banding), Dadang Suwarna (Direktur Pemeriksaan dan Penagihan), Muhammad Haniv (Kepala Kantor Wilayah Banten), Poltak Maruli John Liberty Hutagaol (Direktur Peraturan Perpajakan II), Rida Handanu (Tenaga Pengkaji Bidang Pembinaan dan Penertiban SDM DJP), dan Sigit Priadi Pramudito (Kepala Kanwil Wajib Pajak Besar).

Selanjutnya, Suryo Utomo (Pelaksana Direktorat Ekstensifikasi dan Penilaian DJP), Edi Slamet Irianto (Kepala Kanwil Jawa Tengah I), Ken Dwijugiasteadi (Kepala Kanwil Jawa Timur I), Wahyu Karya Tumakaka (Direktur Transformasi Proses Bisnis), dan Puspita Wulandari (Sekretaris Komite Pengawas Perpajakan).

Berdasarkan hasil penilaian akhir calon Dirjen pajak memiliki raport merah, setelah di tetapkan oleh pansel pada tanggal 23 Desember 2014, peserta lelang mendapatkan rapor dengan predikat merah, kuning dan hijau. Catur Rini Widosari mendapatkan dua rapor merah yaitu Kepribadian dan Uji Publik. Dadang Swarna mendapatkan rapor merah tiga yaitu Kepribadian, Itjen dan PPATK. Puspita Wulandari, SE, MM, DBA rapor merah Kepribadian, Poltak Maruli Jhon Liberty Hutagaol mendapat rapor merah Uji Publik.

Selanjutnya, Muhamad Haniv mendapat tiga rapor merah di Itjen, PPATK, dan Tes Kesehatan. Wahyu Karya Tumakaka mendapat dua rapor merah di Itjen dan PPATK. Sigit Priadi Pramudito mendapat raport merah di Tes Kesehatan. Dr. Drs. Edi Slamet Iriyanto, MSi. mendapat raport merah di Itjen. Ken Dwijugiasteadi, Ak, M.Sc mendapat raport merah di Itjen. Sedangkan, Rida Handanu dan Suryo Utomo tidak ada rapor merahnya.

Pansel calon Dirjen pajak berasal dari kalangan internal dan eksternal Kemenkeu. Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo sebagai Ketua dan Kiagus sebagai Wakil Ketua berasal dari internal. Sedangkan, dari eskternal ada mantan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Taufiequrachman Ruki dan Priyono. (INDO/wilson)

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY