Ratusan Kepala Keluarga Kesulitan Akses Air Bersih

Ratusan Kepala Keluarga Kesulitan Akses Air Bersih

143
0
SHARE

BANDUNG, (WN) – Ratusan Kepala Keluarga (KK) di Kampung Cijagra, Desa Cilampeni, Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung sangat kesulitan mendapatkan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Menghilangnya air bersih dari sumber-sumber air milik warga ini terjadi sejak terus bermunculannya industri di sekitar permukiman mereka.

Inilah ironi yang harus dihadapi warga di desa tersebut di hari air sedunia yang diperingati setiap 22 Maret. Tumbuh suburnya berbagai industri dengan kebutuhan air yang cukup tinggi di lingkungan mereka, mengakibatkan sumber air seperti sumur warga mengering pada musim kemarau.

“Kalau untuk keperluan sehari-hari makan dan minum, kami mengambil dari keran yang dipasang oleh salah satu pabrik dekat permukiman. Selain itu, kami juga biasa membeli air galon isi ulang atau air jerigen dari pengecer,” kata Fitri (40), warga RW 12, Minggu.

Menurut Fitri, air sumur milik mereka sejak lama tak bisa lagi dipakai untuk dikonsumsi. Mereka hanya memanfaatkanya untuk mencuci pakaian dan mandi saja karena airnya berwarna kehitam-hitaman serta berbau tak sedap.

Kondisi ini semakin parah jika musim kemarau tiba, air sumur yang sudah tak layak diminum ini mengering dan hanya menyisakan lumpur hitam. Sehingga dia dan ratusan warga lainnya di RW 11 dan RW 12, terpaksa mengantre air bersih di salah satu pabrik atau membeli air. “Sumber air kami mulai tak bisa lagi dipakai untuk keperluan sehari-hari sekitar 20 tahunan. Ya sejak banyak berdiri pabrik di sekitar desa ini saja,” ujarnya.

Sebagian besar warga di Kampung Cijagra yang terdiri dari 13 RW pun mengalami kondisi yang sama. Rata-rata untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga meminta kepada sejumlah pabrik yang banyak tersebar di daerah itu. “Ya karena rata-rata sumur milik warga di kampung ini dan beberapa kampung lainnya sudah tersedot sama sumur milik pabrik dan sumur jet pump milik segelintir warga,” katanya.

Untuk mengambil air bersih ini, tidak jarang warga harus berjalan hingga dua kilometer lebih. Lantaran di dekat pemukiman mereka tidak pabrik yang mau berbagi air bersih miliknya dengan warga.

Seperti yang dialami oleh ratusan warga RW 11, mereka terpaksa harus mengambil air bersih dari pabrik yang ada di RW 12. “Kalau pabriknya enggak mau berbagi air, terpaksa warga harus jalan kaki ke RW lain. Walaupun harus jalan kaki jauh juga enggak apa-apa asal dapat air bersih,” ujarnya.

Sulitnya air bersih ini terjadi karena rata-rata pabrik ini membuat sumur dengan memanfaatkan air bawah tanah. Selain itu, berbagai pabrik ini pun membuang limbah cair yang mencemari sumber air warga. “Dulu sebelum banyak pabrik, air sumur kami tak pernah kering. Kalau sekarang sudah semakin gersang saja,” kata Fitri.

Meski pada musim hujan seperti sekarang, air sumur milik warga tetap tidak dapat dimanfaatkan untuk keperluan makan minum. Karena kandungan zat besi air di sumur warga cukup tinggi dan berwarna kuning.
Penderitaan serupa juga dialami oleh ratusan warga di Kampung Kampung Cilisung RT 4/3 Desa/Kecamatan Dayeuhkolot Kabupaten Bandung. Setiap musim kemarau, sumur mereka mengering, dan saat musim hujan air sumur tetap tak bisa digunakan untuk keperluan makan minum.

Rini Nuraini(34), salah seorang warga mengatakan, sumur pompa milik mereka sebagian besar mengering setiap musim kemarau tiba. Kalaupun masih ada cukup kecil serta berbau tak sedap. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, mereka terpaksa membeli air galon isi ulang serta air bersih dari pedagang keliling.

Kesulitan air bersih ini, kata dia, terjadi sejak 2008 lalu. Ini terjadi seiring dengan semakin banyaknya pabrik di sekitar kampung mereka. Sumur artesis milik puluhan pabrik itu menyedot air sumur warga. “Kalaupun masih ada airnya, sudah tidak bisa dipakai. Karena bau tak sedap serta tidak jernih. Jadi tidak bisa dipakai makan minum,” ujarnya.

Kondisi serupa juga biasa dihadapi oleh warga di Desa Malakasari Kecamatan Baleendah. Berdirinya berbagai pabrik serta wahana permainan air, dituding warga sebagai biang penyebab mengeringnya sumber air mereka.

Untuk keperluan air bersih mereka terpaksa harus memanfaatkan air bersih pemberian dari sebuah pabrik pemintalan kain yang disalurkan melalui beberapa MCK. “Apalagi kalau musim kemarau, sumur yang memang sudah tak bisa dipakai untuk makan minum ini kering. Kami menggunakan air pemberian pabrik itu,” kata salah seorang warga yang tak mau disebutkan namanya.

Kesulitan air bersih warga di tiga kecamatan di Kabupaten Bandung ini, hanyalah gambaran kecil kondisi masyarakat di daerah ini. Karena sejatinya, masih banyak warga yang sehari-hari harus bergulat dengan kesulitan air bersih. Ini terjadi karena di Tatar Ukur ini sejak sekitar tahun 1980-an, banyak bermunculan berbagai jenis industri. Khususnya industri tekstil yang banyak membutuhkan air. (Sitorus)

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY