PT. TGM Tantang Pemerintah Terkait Cagar Budaya

PT. TGM Tantang Pemerintah Terkait Cagar Budaya

402
0
SHARE

JAMBI, (WN) – Kawasan Percandian Provinsi Jambi, di Kabupaten Muaro Jambi sebagian besar berada di Desa Muara Jambi, Kec. Maro Sebo yang terletak ditanah milik warga yang saat ini sebagian besar sudah diserahkan kepada pemerintah sesuai dengan perundangan yang berlaku dan berdasarkan peta Kawasan Cagar Budaya yang dikeluarkan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi ada 8 (delapan) titik candi atau manapo yang sudah diidentifikasi berada di seberang desa Muara Jambi. Sangat ironi disalah satu titik (red. Titik 77 pada peta situs) ternyata berada didalam lingkungan stock file batu bara milik PT. Tegas Guna Mandiri (TGM) dan bersebelahan dengan pagar PT. Sinar Alam Permai (SAP) yang merupakan bagian dari Wilmar Group.

Saat dikonfirmasi ke pimpinan PT. TGM Pak Edi Gunawan alias Kimley beliau menjelaskan tak ada candi dilingkungan PT. TGM yang ada hanya kuburan lama, bahkan saya (red. Pak Edi) berani tantang cagar Budaya (red. Balai Pelestarian Cagar Budaya) untuk menggali dilokasi yang diindikasi ada candi dilingkungan perusahaan saya. Beliau juga menambahkan bahwa dilokasi itu sudah pernah beliau gali sedalam 5 meter dan tidak ada apa-apanya dan dari dasar tanah asal lokasi tersebut sudah ditimbun sekitar 2 meter.

Jika memang ditemukan candi dilokasi tersebut kami siap untuk pindah, tegas  Edi. Lain lagi pendapat kepala keamanan di PT. TGM yang kebetulan memang penduduk asli Desa Muara Jambi, Datuk Asmara, beliau yakin kalo dilokasi tersebut memang ada candinya.

Dari pihak PT. SAP saat dikonfirmasi kami memenui Heri Fahmi, Kepala Bagian EHS (Environment Healt end Savety) beliau menjelaskan kalau keberadaan PT. SAP itu lebih dahulu berada dilokasi tersebut dan masalah Kawasan waktu itu belum ada tapi kami tetap menunggu keputusan menteri, bahkan kami ada kesepakatan dengan pemerintah yang inti isinya “Jika sewaktu-waktu lokasi ini diperlukan negara untuk kepentingan cagar budaya maka kami siap pindah dari sini”.

Kasi Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jambi, Ibu Rusmeijani Setyorini menyampaikan bahwa berdasarkan Undang-undang No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, perlindungan cagar budaya dilakukan dengan menetapkan batas-batas keluasan dan pemanfaatan ruang melalui sistem zonasi, sistem zonasi tersebut terdiri dari ; zona inti, zona penyangga, zona pengembangan dan/atau zona penunjang. Pada area zona inti dan zona penyangga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat tapi tidak untuk kegiatan industri , untuk kasus seperti PT. SAP karena mereka duluan berdiri baru penetapan Kawasan maka solusinya mereka silahkan berusaha sampai batas waktu tertentu tapi pengembangan tidak dibenarkan lagi, karena kita juga punya tanggungjawab untuk menyelamatkan cagar budaya.

Salah DPRD Kabupaten Muara Jambi dan Juga salah satu tokoh masyarakat dan Pemuda desa Muara Jambi, Riyadus Sholihin, mengatakan seluruh tuo-tuo kampung (red. Desa Muara Jambi) tahu kalo dipelayangan itu ada menapo, sebagai warga negara kita wajib menjaga dan melestarikan nilai-nilai budaya termasuk cagar budaya, kalo menapo itu terancam karena berada di wilayah pabrik maka kita akan berupaya untuk memperjuangkan dan menyampaikan kepada pemerintah untuk memperioritaskan pemugaran dikawasan seberang desa Muara Jambi termasuk desa Kemingking Dalam dan desa Kemingking Luar, karena disana juga ada beberapa candi yang berada dilingkungan pabrik atau stock file batu bara, jelas Riyadus Sholihin pada koran ini. (AF/JAY)

 

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY