Polda Jabar Ungkap Skandal Peredaran Pupuk Tidak Sesuai Label

Polda Jabar Ungkap Skandal Peredaran Pupuk Tidak Sesuai Label

198
0
SHARE

BANDUNG, (WN) – Dari hasil kegiatan penegakan hukum yang dilakukan Polda Jawa Barat melalui Direktorat Reserse Kriminal Khusus. Penyidik telah menemukan kegiatan produksi dan pengedaran pupuk yang tidak sesuai dengan ketentuan dan komposisi pupuk (palsu).

Modus operandi yang dilakukan pelaku diketahui dengan memproduksi dan mengedarkan pupuk palsu yang kemasannya menyerupai kemasan pupuk yang di produksi resmi. Pupuk palsu tersebut di jual dengan harga jauh di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) dari yang di subsidi pemerintah sehingga menarik minat petani untuk membeli dan menggunakan pupuk palsu.

Setelah digunakan, pupuk palsu tersebut bukan menambah kesuburan tanah dan menjadi tanaman kering dan menurunkan produktivitas tanaman. Peredaran pupuk palsu ini telah menggangu program ketahanan pangan pemerintah dan merugikan masyarakat petani secara luas dan merupakan perbuatan pidana.

Salah satunya, kasus predaran yang tidak sesuai label yang berhasil di ungkap adalah di wilayah Kabupaten Cianjur, yaitu pada Rabu sekitar pukul 17:00 wib. Dimana penyidik Dit Reskrimsus Polda Jabar melakukan penyelidikan dan pemeriksaan terhadap PD. AM 2 milik sdr, AS alias YA di Jalan Tungturunan, Kec. Sukaluyu, Kab.Cianjur.

Terungkap sdr. AS alias YA mengedarkan pupuk yang tidak sesuai label dan menjualnya kepada para petani di wilayah Cianjur. Sdr AS alias YA memperoleh sebagian pupuk tersebut dari sdr.JE yang beralamat di Jalan Raya Gunung Masigit, Kabupaten Bandung Barat.

Selanjutnya pada hari besoknya, Kamis sekitar pukul 10:00 Wib, penyidik kembali melakukan pemeriksaan terhadap pabrik pembuatan pupuk milik sdr.JE yaitu CV. Putri Gresik Padalarang di Jalan Raya Gunung Masigit, Kab.Bandung Barat yang memproduksi pupuk dengan menggunakan merk POSKALMIC Si-p 36.

Di pabrik tersebut di temukan kegiatan pembuatan pupuk dengan menggunakan merk POSKALMIC Si-p 36 yang salah satu bahan bakunya berasal dari batu zeolite. Sdr. AS alias YA dan sdr JE bisa menjual pupuk tersebut dengan harga sangat rendah karena salah satu bahan bakunya dari batu ziolita. Sdr alias YA bisa menjual pupuk jenis POSKALMIC Si-p 36 kepada para petani dengan harga Rp.800,- perkilogram dengan harga beli dari sdr.JE sebesar Rp.750,- per kilogram.

Pupuk jenis ZIOPHOSKA dijual dengan harga Rp.1.050,- per kilogram dengan harga beli Rp.1000,- per kilogram. Pupuk jenis PONSKA dengan harga beli Rp.750,- per kilogram di jual dengan harga Rp.800,- per kilogram. Sedangkan eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi jenis tersebut untuk wilayah Cianjur, pupuk jenis POSKALMIC Si-p 36 harga beli Rp.1950,- per kilogram dan harga jual Rp.2000,- per kilogram.

Sementara pupuk jenis PONSKA harga pembelian Rp.2.225,- per kilogram dengan harga jual Rp.2300,- per kilogram. Dari tersangka AS alias YA dan tersangka JE penyidik menyita barang bukti pupuk sekitar 23 ton dengan perincian 200 karung berisi pupuk POSKAMIC Si-p 36 dengan berat masing-masing karung 50 kg, 200 karung berisi pupuk merk ZIOPHOSKA, 40 karung berisi pupuk merk PONSKA, 10 karung ukuran 50 kg yang berisi tepung zeolite dan 5 karung ukuran 50 kg yang berisi batuan zeolite.

Atas perbuatan tersebut,kedua tersangka telah melanggar pasal 60 huruf f jo pasal 37 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 12 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman, yaitu barang siapa dengan sengaja mengedarkan pupuk yang tidak sesuai dengan label diancam pidana penjara maksimal 5 (lima) tahun dan denda maksimal Rp.250 juta serta Undang-Undang RI Nomor 03 tahun 2014 tentang perindustrian. (POLDA/D.sitorus)

 

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY