MKD “Masuk Angin”, Novanto Diseret Kejagung

MKD “Masuk Angin”, Novanto Diseret Kejagung

420
0
SHARE

Jakarta, (WN) – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluapkan kemarahannya atas kasus pencatutan namanya dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Jokowi menegaskan apabila cemooh diberikan kepadanya, maka itu tidak masalah. Namun, apabila yang disasar adalah lembaga negara, maka itu salah.

“Saya nggak apa-apa, katakan presiden gila, presiden sarap, presiden kopak, nggak apa-apa. Tapi kalau sudah menyangkut wibawa, menyangkut minta saham 11 persen itu yang saya nggak mau,” tukas Jokowi, Senin (7/12/15).

Pernyataan Jokowi tersebut terlontar menyusul pemeriksaan tertutup atas Ketua DPR RI Setya Novanto dilakukan oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR menunjukkan ketidakadilan proses dalam skandal negosiasi PT. Freeport Indonesia.

Kegagalan memaksa sidang dilaksanakan secara terbuka, dengan alasan-alasan teknis pimpinan sidang dan mekanisme pengambilan keputusan hanyalah kamuflase dari anggota MKD untuk menghindar dari kecaman publik dan hukuman politik.

“Yang pasti MKD telah diambil alih oleh kekuatan dan kedigdayaan politik Novanto. MKD masuk angin. Sidang tertutup diklaim atas permintaan Novanto dan menunjukkan bahwa Novanto tidak memiliki etika kenegarawanan. Tidak pantas duduk sebagai ketua DPR,” ujar Ketua Setara Institute Hendardi dalam pernyataannya, Senin(7/12/2015).

Sedangkan menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan sudah menjadi tugas Kejaksaan Agung untuk mengusut dugaan tindak pidana. Termasuk yang dilakukan Setya Novanto. “Yang jelas saya tidak menolak segala upaya Jaksa Agung. Mendukung itu soal lain. Itu tugasnya. Tidak ada dukung mendukung. Jalankan tugas sesuai fungsinya,” ujar JK di Kantor Wakil Presiden, Jakarta.

Jusuf Kalla menyatakan sudah sepantasnya Setya Novanto mundur dari jabatan atas perbuatan tidak etisnya tersebut. “Ya, itu lebih bagus sebenarnya (mundur dari jabatan), lebih sportif,” katanya.

Petisi yang mendesak Setya Novanto dipecat itu sudah didukung 87.307 orang hingga hari ini.

Jusuf Kalla mengaku kecewa sidang dugaan pelanggaran etik yang dilakukan MKD terhadap Setya Novanto digelar secara tertutup. Padahal, dia berharap sidang itu dilakukan terbuka.

“Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kita tunggu saja. Ini sebenarnya semua orang menginginkan terbuka.

Kalla menduga sidang digelar tertutup lantaran ada lobi-lobi yang dilakukan fraksi tertentu kepada anggota Mahkamah. Namun, dia mengaku tak tahu apakah lobi itu terkait untuk mengamankan Setya dari jeratan sanksi, termasuk adanya pertemuan di Teuku Umar yang isinya diduga terkait sidang MKD.

“Yang namanya lembaga politik pasti lobi-lobi ada,” kata dia. “Saya tidak tahu, itu urusan DPR lah. Tapi saya bilang ya namanya lembaga politik pasti lobi itu bisa-bisa saja.”

Sidang Mahkamah Kehormatan Dewan untuk meminta keterangan dari Ketua DPR Setya Novanto digelar tertutup. Pemeriksaan ini akan menentukan nasibnya atas tuduhan yang dilaporkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said.

Sementara itu, Kejaksaan Agung (Kejagung) tetap melanjutkan penyelidikan kasus dugaan permukatan jahat yang diduga dilakukan Setya Novanti. “Kejaksaan tetap akan lanjut. Karena ini hal yang berbeda. MKD masalah etika. Kejaksaan masalah pidana. Jadi walaupun dianggap tak bersalah terkait etika. Pidananya tetap akan jalan,” tegas Jaksa Agung HM Prasetyo menjawab pertanyaan wartawan, di Kejagung, Senin (7/12) sore.

Prasetyo mengatakan bahwa penyelidikan Kejagung terhadap kasus tersebut tidak akan menunggu proses persidangan yang dilakukan MKD. (Son) KETUA DPR

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY