Komandan Harimau Mengganas Tapanuli yang Terabaikan

Komandan Harimau Mengganas Tapanuli yang Terabaikan

1990
0
SHARE
Tugu Kapten Bongsu Pasaribu
Tugu Kapten Bongsu Pasaribu

Sibolga, (WN) – Memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, banyak orang mengenang kembali perjuangan para pahlawan kemerdekaan. Begitu banyak pahlawan yang rela menumpahkan darahnya pada tanah Indonesia demi lepas dari penjajahan kolonial.

Jika Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla hari  ini memimpin apel kehormatan dan renungan suci di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta Selatan yang merupakan rangkaian perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Berbeda lagi di Kota Sibolga, Sumatera Utara dimana para cucu dari Komandan Harimau Mengganas Tapanuli, Kapten Bongsu Pasaribu turut mendatangi Makam Pahlawan Sibolga, Sumatera Utara.

“Datang ke makan kakek bongsu hanya menabur bunga dan berdoa, itu saja, ujar R. Pasaribu kepada Harian Warta Nasional, Rabu (17/8/2016).

Pantauan Harian Warta Nasional, para pemimpin bangsa di berbagai daerah ini menggelar upacara untuk mengenang arwah dan jasa pahlawan bangsa yang bersemanyam di taman makam pahlawan.

Namun ada satu nama yang justru terlupakan yaitu Komandan Harimau Mengganas Tapanuli.

Bongsu Pasaribu adalah salah satu lulusan tentara di Kadester Shcool, Bandung, Jawa Barat. Dan pada saat penjajahan Jepang dia pulang ke tanah kelahirannya Tapanuli Tengah (Tapteng) / Sibolga.

Di Sibolga dia menjadi tentara Gygun dan menyandang pangkat sebagai Gyiusoi (Opsir) dan membentuk Angkatan Pemuda se-Kota Sibolga.

Inilah nama-nama prajurit dari Kapten Bongsu Pasaribu yang berhasil dicatat yaitu Majit Simanjuntak sebagai wakil, Humehe Rambe (Pengatur Pertahanan), Gontar Lubis sebagai ajudan dan staff, Kanor Samosir, Hombar Tambunan, Padet, Jaimi, Tanjung.

Serta Mian Tambunan, Mauli Panggabean, Bili Matondang, Ayat Tarihoran, Panemet Pasaribu, Masin Panggabean, Fliang, Kadi HT, Uruk, Mancur, Mancit, Krisman Marbun, Mahasan Aritonang, Usia Pane, Salmon Nainggolan dan Kartolo Pasaribu.

Sementara untuk Seksi Perbekalan di antaranya bernama, Dior Nainggolan, Raja Johanis Pasaribu, Freodolin Purba dan Amit Simatupang yang ada di Pasar Sorkam.

Selain dari nama-nama yang diatas, masih banyak lagi yang belum diketahui nama-nama prajuritnya yang gugur saat berjuang tersebar di daerah Barus, Pahieme, Sipea-pea, Sorkam, Sibolga.

Satu tahun setelah Indonesia merdeka (17 Agustus 1945), Tentara Keamanan Rakyat diubah pada 1946 menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI), Kapten Bongsu Pasaribu dipercaya menjadi Komandan Batalyon II (dua). Hingga akhirnya jabatan Komandan Batalyon II itu diserahterima kepada Marhasam Hutagalung.

Sementara itu Kapten Bongsu dipercayakan sebagai pejabat Staf Resimen III dengan Komandan Pandapotan Sitompul.

Pada saat peperangan, Bongsu ditangkap dan disiksa tentara Belanda dengan cara tidak manusiawi, dimana bagian Kepala Bongsu di penggal terpisah dari tubuhnya dan potongan Kepala Bongsu dipertontonkan ke masyarakat di sepanjang jalan ke Barus untuk melemahkan perjuangan prajuritnya.

Saat itu tahun 1949, oleh prajuritnya kepala bongsu di makamkan di penjara Barus dan dipindhkan ke makam pahlawan Sibolga.

Pada zaman itu, seluruh daerah Tapanuli dipimpin satu Gubernur Militer bernama Dr. Ferdinan Lumban Tobing. Untuk pengamanan daerah-daerah keseluruhan Tapanuli, dibagi atas berbagai sektor pertahanan. (Rekson Pasaribu)

Poto Kapten Bongsu Pasaribu saat masih muda
Poto Kapten Bongsu Pasaribu saat masih muda bersama Abangnya Raja Johannes Pasarinu dan saudaranya

 

 

Kapten Bongsu Pasaribu
Makam Kapten Bongsu Pasaribu di Makam Pahlawan Sibolga

 

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY