Kasat Reskrim Janji Tangkap Satpam USU Terkait Penganiayaan Wartawan

Kasat Reskrim Janji Tangkap Satpam USU Terkait Penganiayaan Wartawan

225
0
SHARE

MEDAN, (WN) – Solidaritas wartawan media cetak, elektronik, dan online menggeruduk kantor Rektor USU untuk meminta pertanggungjaban Rektor, menyusul insiden pemukulan terhadap wartawan terbitan harian Medan oleh satpam USU telah menciderai UU Pers No 40 tahun 1999.

Dalam aksi solidaritas para awak media, tidak ada satu pun pihak dari Fakultas USU menerima aspirasi massa tersebut, dan akhirnya para awak media melanjutkan aksinya di Polresta Medan, Kasat Reskrim Polresta Medan Kompol Aldi Subartono,SIK,SH,MH menerima aksi solidaritas para awak media, dan meminta perwakilan aksi solidaritas untuk duduk bersama dan memberitahukan persoalan, agar kita dapat mengetahui yang sebenarnya, tegas Kasat Reskrim.

Kasat juga mengatakan, meminta saksi yang melihat langsung, dan sesudah diperiksa oleh penyidik akan kita lakukan pemanggilan kepada pihak yang diduga sebagai pelaku, dan segera mungkin kita akan tangkap pelaku sesuai KUHAP, tegasnya.

2

Menurut Kasat akan segera menyelesaikan kasus ini sesuai mekanime Hukum, yakni diproses terlebih dahulu, baru kita bisa  untuk mengambil langkah apa yang harus dilakukan, dan tentu tidak lebih dari 5 hari, tegasnya.

Dalam aksinya di depan kantor Rektor USU, Array mengatakan, perlu kalian ketahui bahwa jurnalis hanya sebagai pewarta dan bukan pembawa petaka, kami kemari ingin berjumpa langsung kepada Rektor dan meminta penjelasan terkait peristiwa penganiayaan yang dialami oleh salah seorang rekan kami, tegasnya.

Array juga mengatakan, bahwa security hanya sebagai penjaga pengamanan kampus, tetapi kenapa wartawan dipukul, ada apa, apakah Rektor USU memerintahkan security untuk memukul wartawan setiap meliput diareal USU, tegasnya.

Ketika didesak oleh Wartawan untuk berjumpa dan ingin mempertanyakan tentang penganiayaan kepada Rektor USU, seorang lelaki bernama Wahyudi yang mengaku sebagai Kepala Bagian Ketertiban dan pengamanan Fakultas USU mengatakan, bahwa Rektor dan Pureg beserta jajaran nya tidak ada ditempat, dan wartawan kembali mempertanyakan kepada Wahyudi, kemana mereka pergi, Wahyudi tidak dapat menjelaskan, dan hanya berkilah sembari berkata, sudah kuhubungi mereka melalui Via Telephone, tetapi tidak ada jawaban dan balasan, tegas Wahyudi.

Pagar betis Satpam menghalau Wartawan, Damai Menrofa dalam orasinya mengatakan, kami tidak mau dihadapkan dengan Satpam ini, dan kami tidak perlu dikawal, dan kami datang untuk bertemu kepada orang intelektual dan bukan untuk bertemu dengan Security, tegasnya.

3

Damai Menrofa dalam orasinya mengatakan, dalam melakukan tugas untuk peliputan Jurnalis, kami jelas dilindungi Negara, Sesuai UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers, dan kami meminta security tidak perlu ada dihadapan kami, dan kami kemari bukan untuk anarkis, dan kami Jurnalis memiliki Kode Etik dan berpendidikan, dan meminta agar Rektor USU bertanggung jawab dan meminta maaf  dihadapan publik, tegasnya.

Irvan Rumapea korban keberingasan Security USU kepada Harian Warta Nasional mengatakan,  bahwa Satpam USU itu seperti anak Harimau yang dipelihara oleh Rektor USU, mereka dipersenjatai dengan rotan dan memukul bagian kepala ku, untung aku memakai Helm kalau tidak mungkin aku sudah mati, tegas Irvan.

Tidak mungkin Satpam berani melakukan pemukulan, kalau tidak diperintahkan oleh atasan nya, tegas Irvan dan menunjukan bekas luka pukulan yang dialami oleh dirinya, tegas Irvan.

Irvan juga mengatakan, bahwa tindakan Satpam itu sungguh tidak manusiawi, dan menunjukan Video peristiwa yang diabadikan oleh rekan seprofesinya, ada 6 orang Satpam mengejar, menendang, dan lalu memukul saya, padahal saya sudah meminta maaf dan ampun-ampun, tetapi mereka tidak perduli, tegasnya.

Ketua Group Team Sniper Pers Rudi M, ST ditempat terpisah, ketika dimintai tanggapannya terkait penganiayaan dialami rekannya dan mengatakan, bahwa perlindungan terhadap Wartawan dalam menjalankan tugas Jurnalistik, bahwa menjadi kewajiban negara untuk melindungi para jurnalis, dan seperti hal nya terhadap rekan kami sekarang ini, sementara Dunia Internasional melalui Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa ( United National Human Rights Council ) di Wina, Austria mengatakan, dalam revolusi yang disepakati seluruh anggota tanggal 27 Desember 2012 untuk pertama kali menegaskan, pentingnya keselamatan Wartawan sebagai unsur fundamental kebebasan ekspresi, tegasnya.

Rudi M, ST meminta kepada pihak kepolisian agar segera memproses pelaku penganiayaan yang dialami Irvan Rumapea sesuai hukum yang berlaku, dan sebagai barang bukti ada rekaman Video atas tindakan pidana penganiayaan, dan 2 orang saksi yang melihat langsung dari dekat, dan saksi tersebut telah diperiksa penyidik, dan kita juga meminta kepada pihak penegak hukum agar tidak beralasan dan tidak mengulur-ulur waktu, tegasnya ( Harry/Gaho )

 

 

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY