Ini Bukti Nyata Kerja Ahok-Djarot Sukses Membenahi Jakarta

Ini Bukti Nyata Kerja Ahok-Djarot Sukses Membenahi Jakarta

10114
0
SHARE
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat saat berbincang-bincang.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat saat berbincang-bincang.

Jakarta, (WN) – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Wakil Gubernur Djarot Saiful Hidayat memang terhitung sukses dalam membenahi karut marutnya Kota Jakarta.

Sosok Ahok yang ceplas-ceplos dan tegas ini ternyata mampu mengubah Jakarta, diantaranya dapat membenahi Waduk Pluit menjadi memesona dan enak dipandang, Waduk Pantai Indah Kapuk lebih bersih dan teratur.

Serta rumah Susun Cengkareng, Parkir Meter/Elektronik, Sterilisasi Monas, Relokasi Kampung Pulo, membuat Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), perekrutan para pekerja penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU), Wisata Balai Kota.

Pantauan Harian Warta Nasional pada hari Senin, (26/9/2016) menyebutkan vidio bukti Nyata Kerja Ahok menyebar di Yutubu mulai hari ini.

Dalam Vidio terlihat, semua armada alat berat diperintahkan ahok segera tuntaskan normalisasi sungai di DKI Jakarta. Perintah Ahok tegas dan jelas. Targetnya, semua air sungai bersih dan bebas dari sampah. Bahkan, Ahok mengatakan kalau bisa semua air sungai harus jernih dan bisa diminum, ujarnya.

Menurut Ketua Kobar, Eddy Pasaribu mengatakan, memang kinerja Ahok-Djarot sangat sukses dalam membenahi karut marutnya Kota Jakarta.

“Lihat saja perubahan Waduk Pluit, Waduk Pantai Indah Kapuk dan normalisasi sungai-sungai di Jakarta kini sudah terlihat indah dan rapi,” ujar Eddy Pasaribu kepada Harian Warta Nasional, Senin, (26/9/2016).

Diantara program unggulan yang dilaksanakan Pemprov DKI Jakarta yang sukses melalui Ahok – Djarot, adalah :

PARKIR METER/ELEKTRONIK

Sistem parkir meter yang menggunakan Terminal Parkir Elektronik (TPE) dimulai pada akhir 2014. Di awal penggunaanya, banyak warga DKI masih bingung. Seiring berjalannya waktu, warga mulai terbiasa. Bahkan kebijakan ini mampu mengatasi parkir liar di jalan.

Bukan hanya itu, parkir meter kini menjadi salah satu program unggulan yang dikembangkan di Pemprov DKI Jakarta. Jika dikelola secara apik, menurut Ahok pendapatan dari parkis bisa mencapai Rp 100 juta per hari. “Tahu enggak masuk duitnya berapa? Hanya 30% saja nih, yang di Jalan Sabang, rata-rata Rp 10 juta per hari,” ungkap Ahok.

STERILISASI MONAS

Melihat banyaknya PKL (Pedagang Kaki Lima) yang berjualan di sekitar area Taman Monumen Nasional, membuat Ahok geram dan melakukan sterilisasi. Kebijakan itu tak mulus diterima pedagang, mereka menentang dan melawan keputusan itu. Namun, Ahok jalan terus dan tak gentar melawan perlawanan dari PKL.

Hasilnya, kini mereka yang berdagang di Monas telah dibina Ahok melalui Lenggang Jakarta. Pemprov DKI Jakarta pun menutup semua akses pintu masuk bagi PKL liar di areal pusang jajanan Lenggang Jakarta.

RELOKASI KAMPUNG PULO

Ahok berani memindahkan warga Kampung Pulo di bantaran Sungai Ciliwung. Aksi relokasi sempat diwarnai bentrokan antar warga dengan aparat. Namun hal itu telah membuat sejumlah warga berhasil dipindahkan ke Rumah Susun Sederhana Sewa Jatinegara Barat, Jakarta Timur pada September 2015.

Meski kepindahan itu menuai keluhan, mulai tidak ada teralis pada jendela, hingga masalah sarana. Namun, tahap demi tahap perbaikan rusun dilakukan. Hingga kini, warga pun mulai menikmati hunian baru mereka. Bahkan pada Hari Raya Idul Adha 1436 H, ratusan warga relokasi dari Kampung Pulomenjalankan shalat Id di rusun tersebut.

MEMBUAT RPTRA

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) pertama dibangun Ahok di Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, pada Oktober 2015. Menurut Ahok, tujuan utama pembangunan ruang publik ini merupakan langkah DKI Jakarta untuk mewujudkan provinsi yang ramah anak. Ahok meminta anak-anak harus dididik dengan baik di RPTRA. Sebab, banyak RPTRA yang baru dibangun telah dipenuhi sampah.

“Anak-anak ini mesti dididik dan BPMPKB (Badan Pemberdayaan Manusia Perempuan dan Keluarga Berencana) harus dibagi tugasnya nih. Enggak mungkin anak-anak main di jalan dan saya minta semua SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) konsentrasi pikirkan itu,” kata Ahok.

MEMBENTUK PPSU

Melalui peraturan gubernur tentang perekrutan para pekerja penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU), Ahok pun membuat sejumlah pasukan yang ditugaskan untuk menangani persoalan darurat dan kecil. Misalnya membersihkan sampah yang menyumbat saluran air, memunguti sampah yang dibuang sembarangan, menambal lubang kecil di trotoar dengan semen, dan masalah kerusakan pada sarana dan prasarana umum di Jakarta.

Dengan seragam oranye, PPSU itupun lalu ditempatkan berdasarkanzonasi tertentu di setiap kelurahan. Satu zona, misalnya, satu ruas jalan atau taman, bisa diisi 2-3 pekerja yang dibagi dalam 2 giliran kerja dari pagi hingga malam. Satu kelurahan akan mendapatkan 40-70 pekerja, tergantung luas wilayah dan jumlah penduduk.

Disinyalir berhasil, Ahok pun akan memindahkan Pekerja Harian Lepas (PHL) yang selama ini di bawah dinas menjadi PPSU. “PPSU sudah relatif baik kerjanya, justru kurang orang. Saya lagi berpikir pindahkan PHL Dinas Kebersihan atau (Dinas) Taman ke kelurahan,” tegas Ahok.

WISATA BALAI KOTA

Keinginan Ahok agar warga DKI Jakarta bisa merasakan suasana Balai Kota, membuat dirinya memutuskan untuk membuka Balai Kota sebagai destinasi wisata. Di Balai Kota yang memiliki teras yang luas ini, warga dapat berwisata sambil melihat keindahan Monas. Bukan hanya itu, Ahok juga berharap warga bisa belajar banyak tempat yang menjadi kantor Gubernur DKI Jakarta.

Di Balai Kota, warga bisa mendapatkan informasi tentang Kota Jakarta, mulai dari sejarah gedung Balai Kota, gubernur yang pernah memimpin, sampai perkembangan Kota Jakarta terkini.

“Orang pengin tahu gubernur dulu siapa saja. Ternyata gubernur dulu ganteng dan cakep. Ada fotonya di dalam, mungkin bisa foto di situ,” ujar dia. Ahok pun ingin Balai Kota bisa menjadi tempat nongkrong baru bagi anak muda. Sehingga mereka bisa menghabiskan waktu dengan kegiatan positif.

Di wisata Balai Kota, Ahok juga menyediakan tempat gratis bagi pengusaha yang bergerak di bidang kuliner, kerajinan maupun fashion yang ingin memasarkan produknya. (Edward/Jenri)

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY