Di Kasus Jessica Penyidik Polisi Tidak Mematuhi Peraturan Kapolri

Di Kasus Jessica Penyidik Polisi Tidak Mematuhi Peraturan Kapolri

3193
0
SHARE
Ahli hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia Mudzakkir
Ahli hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia Mudzakkir

Jakarta, (WN) – Ahli hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia Mudzakkir lebih menyoroti pelanggaran terhadap Peraturan Kapolri Nomor 10 Tahun 2009 Pasal 58 yang telah dilakukan penyidik kepolisian dalam mengungkap kasus meninggalnya Wayan Mirna Salihin.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (14/9/2016), selaku kuasa hukum Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan menayangkan siaran langsung di layar proyektor terkait UU Peraturan Kapolri No 10 Pasal 58  tentang Pemeriksaan Barang Bukti Keracunan.

Pasalnya 58 menyebutkan, Pemeriksaan barang bukti keracunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 wajib memenuhi persyaratan formal sebagai berikut,

1). Permintaan tertulis dari kepala kesatuan kewilayahan atau kepala/pimpinan instansi, 2) laporan polisi, 3). BAP saksi /tersangka atau laporan kemajuan, 4). Visum et Repertum atau surat pengantar dokter forensik bila korban meninggal atau riwayat kesehatan (medical record) bila korban masih hidup, 5) BAP pengambilan, penyitaan dan pembungkusan barang bukti.

(2) Pemeriksaan barang bukti keracunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 wajib memenuhi persyaratan teknis sebagai berikut, korban mati/meninggal:

a) organ/jaringan tubuh : 1) lambung beserta isi (100 gr), 2) hati (100 gr), 3) ginjal (100 gr), 4) jantung (100 gr), 5) tissue adiposa (jaringan lemak bawah perut) (100 gr), dan 6) otak (100 gr).

b) cairan tubuh,  1) urine (25 ml), 2) darah (10 ml)

c) sisa makanan, minuman, obat – obatan, alat/peralatan /wadah antara lain piring, gelas, sendok/garpu, alat suntik, dan barang – barang lain yang diduga ada kaitannya dengan kasus; dan d) barang bukti pembanding bila diduga sebagai penyebab kematian korban.

“Penyidik Kepolisian dalam mengungkap penyebab kematian karena keracunan tidak boleh melanggar Peraturan Kapolri Nomor 10 Tahun 2009 Pasal 58. Jika itu dilanggar penyidik, maka korbannya tidak keracunan (Zat Sianida),” ujar Mudzakkir di Persidangan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (14/9/2016).

Saat Otto Hasibuan menanyakan, jika korban tidak di otopsi, bagaimana ?, Mudzakkir mengatakan penyidik juga tidak mematuhi Peraturan Kapolri.

“Bagaimana bisa seseorang bisa dituduh keracunan jika korbannya saja tidak diotopsi menyeluruh. Tidak bisa menghukum seseorang jika bukti-buktinya tidak lengkap,” tegas Mudzakkir. (Wilson/ Jenri Sitorus)

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY