Debt Collector Lebih Pantas Diteriakin Maling

Debt Collector Lebih Pantas Diteriakin Maling

240
0
SHARE

PENULIS : Delimar Sitorus Wartawan Jawa Barat

MARAKNYA keluhan masyarakat tentang kinerja penagih hutang atau Debt Collector yang merampas atau dalam bahasa mereka “Menarik” motor kredit dan Mobil Kredit yang menunggak angsuran secara terang terangan di tengah jalan raya hingga dianggap meresahkan masyarakat menjadi perhatian utama pemberitaan berbagai media beberapa waktu terakhir.

Tidak ada gunanya meminta bantuan pada pihak polisi karena pada umumnya pihak debt collector sudah menjaling kerjasama dengan oknum polisi.  Yang paling di takuti oleh debt collector adalah massa. Jadi tidak ada salah nya segera kumpulkan massa saat mereka menelor dan teriakin maling atau rampok agar tercipta kerumuran massa secepat mungkin, adalah Tips menghadapi debt collector. Berikut tips lainnya:

PERTAMA:

Minta mereka menunjukkan identitas dan surat tugas, tanyakan kepada mereka, siapa yang menyuruh mereka datang dan meminta nomor telepon yang memberi tugas para penagih utang ini. Jika mereka tak bisa memenuhi permintan anda dan anda ragu pada mereka, persilahkan mereka pergi. Katakan, anda mau istirahat atau sibuk dengan pekerjan lain.

KEDUA:

Jika para penagih hutang bersikap santun, jelaskan bahwa anda belum bisa membayar karena kondisi keuangan anda belum memungkinkan. Sampaikan kepada penagih utang bahwa anda akan menghubungi yang terkait langsung dengan perkara utang piutang anda jangan berjanji apa apa kepada para penagih utang.

KETIGA:

Jika para penagih utang mulai berdebat  meneror, persilahkan mereka keluar dari rumah anda. Hubungi segera RT, RW, atau polisi. Sebab, ini bertanda buruk bagi para penagih utang yang mau merampas mobil, motor atau barang lain yang sedang anda cicil pembayarannya.

KEEMPAT:

Jika para penagih utang berusaha merampas barang cicilan anda, tolak dan pertahankan barang tetap di tahan anda. Katakan kepada mereka, tindakan merampas yang mereka lakukan adalah kejahatan. Mereka bisa di jerat pasal 368, pasal365, KUHP ayat 2,3 dan 4 junto pasal 335, dalam KUHP jelas di sebutkan, yang berhak untuk melakukan eksekusi adalah pengadilan.

Jadi, apabila mau mengambil jaminan, harus membawa penetapan eksekusi dari pengadilan negri. Ingatkan kepada mereka, kendaran cicilan anda misalnya, adalah milik anda, sesuai dengan STNK dan BPKB, kasus ini adalah kasus perdata, bukan pidana kasus perdata diselesaikan lewat pengadilan perdata dan bukan lewat pengadilan utang.

Ituh sebabnya, polisi pun dilarang ikut campur dalam kasus perdata.kasus ini menjadi kasus pidana kalau parah penagih utang merampas barang cicilan anda, meneror atau menganiya anda untuk menjerat anda ke rana pidana, umumnya perusahan leasing, bank, atau koprasi akan melaporkan anda dengan tuduhan penggelapan

KELIMA:

Jika para penagih utang merampas barang anda,segera ke kantor polisi dan laporkan kasusnya bersama sejumlah saksi anda.tindakan para penagih utang ini bisa di jerat pasal 368 dan pasal 365 KUHP ayat 2,3,dan 4 junto pasal 335.

KE ENAM:

Jangan titipkan mobil atau barang jaminan lain kepada polisi.tolak dengan santun tawaran polisi.pertahan kan mobil atau barang jaminan tetap di tangan anda sampai anda melunasi atau ada keputusan eksekusi dari pengadilan.berkonsultasi hukumlah kepada lembaga perlindungan konsumen,komnas perlindungan konsumen dan pelaku usaha,atau badan penyelesaian sengketa konsumen

FIDUASIA DAN PERJANJIAN LEASING BODONG

Tapi rupanya banyak masalah yang muncul dari usaha lain. Kebanyakan di karenakan adanya peraktek peraktek curang yang dilakukan oleh pihak bank/leasing. Saat aplikasi keredit kita telah di setujui oleh pihak bank/leasing, maka kita di wajibkan untuk membayar DP (uang muka) aturan terbaru (2012) untuk keredit motor DP minimal sebesar 20% dan untuk keredit mobil DP minimal sebesar 25% selanjut nya dilakukan perjanjian keredit (akad keredit) antara debitur (konsumen)dan keredit tur(bank/perusahan leasing)pada tahap inilah kecurangan bank/leasing di mulai.

Bagi masyarakat umum yang tidak jeli sulit melihat kecurangan ini. Namun kami ingatkan, dibalik wajah wajah ramah dan pakaian necis para pegawai tersebut sebenarnya mereka sedang menjalankan usaha yang licik dan jahat! dalam peruses akad keredit pernakah pihak bank/leasing memberikan draft perjanjian nya beberapa hari sebelumnya untuk kita pelajari?.

Tidak pernah ! bahkan jika kita meminta pun tidak akan pernah mereka berikan!kenapa demikian? jawabnya sederhana agar kita tidak sempat memahami dengan baik apa isi dari perjanjian tersebut!perjanjian akad keredit yang berlembar lembar ituh selalu di beri pihak bank/leasing  mendadak, sesat sebelum  kita tanda tangani dari gejala ini seharusnya kita menyadari bahwa ada sesuatu di sembunyikan dalam perjanjian tersebut!pada kenyatanya isi dari perjanjian itu banyak yang bersipat sepihak.

Merugikan konsumen,bahkan melanggar hukum! Inilah alasanya mengapa bank atau Leasing tidak meneriama pengacara atau polisi sebagai konsumennya. Perjanjian yang kita tanda tangani tersebut di sebut oleh pihak Bank/leasing dsb, sebagai perjanjian utang piutang antara kredit dengan debitur yang melibatkan penjaminan yang kedudukannya tetap dalam penguasaan pemilik jaminan dan di buat Akta Notaris dan didaftarkan ke kantor pendaptaran Fidusia dengan perjanjian Fidusia ini keditur (pihak Pemberi kredit) memiliki hak ekssekutorial langsung jika debitur melakukan pelanggaran perjanjian.

Pertanyaan adalah, apakah perjanjian yang kita tanda tangani akad kredit itu termasuk perjanjian Fidusia, jawabanya, tidak ! pernahka dalam proses penandatanganan akad kredit pembelian motor bahkan mobil kita di hadapkan pada notaris! tidak hanya dengan member kata kata di jaminkan secara fidusia tidak lantas secara otomatis membuatnya menjadi sebuah perjanjian fidusia.

Perjanjian yang kita tandatangani dengan tidak di hadapan notaris itu disebut perjanjian di bawah tangan masih banyak kecurangan kecurangan lain yang di lakukan pihak Bank/Leasing, seperti skema cicilan dan penalty pelunasan yang sangat merugikan komsumen sering kita temui keluhan konsumen yang sudah melewati setengah masa termin cicilannya namun mendapati hutangnya hanya berkurang sedikit. Namun kita akan focus pada konskwensi yang harus kita hadapi saat mengalami gagal bayar. Untuk lebih memahami,mari kita buat ilustrasinya:

Jika kita kredit motor/mobil untuk jangka waktu tiga tahun lantas setelah memasuki tahun ke tiga tiba tiba kita tdak lagi mampu membayar cicilan. Adilkah jika dalam kondisi tersebut mobil/motor kita di sita! Dan benarkah motor/mobil kita boleh di sita! Ingat, sebelumnya kita sudah membayar uang DP (20 – 25 % dari harga) dan selama dua tahun kita sudah membayar cicilan dengan tertib. Artinya dari sisi keadilan,hak kita terhadap motor/mobil tersebut jauh lebih besar di banding pihak Bank/Leasing (DP + cicilan dua tahun).

Terlepas dari sisi keadilan dari segi hukumpun ternyata sama sekali tidak berhak menyita motor/mobil kita itu. Mengapa demikian ? pertama, sebagai mana sudah di bahas diatas bahwa perjanjian yang kita tanda tangani tersebut sama sekali bukan pejanjian fidusia. Artinya pihak kreditur tidak memiliki hak eksekutorial atas jaminan (motor/mobil) kedua , dalam STNK dan BPKB motor/mobil tersebut secara hukum sah merupakan milik kita,bukan milik Bank/Leasing.

Sedangkan hubungan antara kita dengan pihak Bank/Leasing adalah hubungan utang piutang. Satu satunya pihak yang berhak melakukan eksekusi di negeri ini adalah pengadilan melalui keputusan eksekusi pengadilan artinya Bank/Leasing apalagi debit kolektor sama sekali tidak berhak melakukan eksekusi dengan alasan apapun tentu saja Bank/Leasing tidak mau menempuh proses pengadilan karena selain memerlukan biaya juga butuh waktu yang tidak sebentar.

Dan keputusan pengadilan pasti akan memerintahkan untuk dilakukan pelelangan terhadap motor/mobil kita tersebut dimana hasil lelang harus di bagi dua. Pertama untuk membayar sisa utang kita kepada Bank/Leasing tidak mau menempu proses pengadilan karna selain memerlukan biaya juga untuk waktu yang tidak sebentar. Dan keputusan pengadilan pasti akan memerintahkan untuk dilakukan pelelangan terhadap motor/mobil kita tersebut dimana hasil lelang harus di bagi dua.

Namun seringkali sebagai orang yang tidak taat hukum justru kita yang ditakut takut oleh pihak bang/leasing karena tahu tidak memiliki dasar hukum maka mereka selalu memakai tenaga pihak ke tiga yaitu debit colektor. Penggunaan jasa pihak adalah upaya pengecut pihak bank/leasing untuk cuci tangan. Manakala muncul masalah akibat proses penyitaan yang melanggar hukum tadi.

Tidak ada gunanya meminta bantuan pada pihak polisi karena biasanya debit collector sudah menjaling kerjasama dengan oknum polisi yang paling di takuti oleh debit collector adalah massa. Jadi tidak ada salah nya segera kumpulkan massa saat mereka menelor. Bila perlu teriaki mereka maling atau rampok agar tercipta kerumuran massa secepat mungkin. (ARINI S /D.sitorus)

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY