Dana Rutilahu Desa Ciawi Disunat Oknum Muslimat NU

Dana Rutilahu Desa Ciawi Disunat Oknum Muslimat NU

279
0
SHARE

PURWAKARTA, (WN)Program rumah tidak layak huni (Rutilahu) yang digulirkan pemerintah, adalah untuk membantu memperbaiki rumah warga khususnya rumah tangga miskin (RTM) yang tidak layak huni menjadi lebih layak untuk ditempati.

Keinginan pemerintah yang begitu mulia, dan patut diapresiasi, ternyata malah disalahgunakan dan dijadikan lahan untuk mencari keuntungan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, tidak bermoral dan tidak berhati nurani, dengan mengorbankan masyarakat miskin untuk memperkaya diri sendiri.

Seperti yang terjadi di Desa Ciawi, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Di desa tersebut, dana bantuan program Rutilahu sebesar Rp. 600 juta yang sumber anggarannya berasal dari Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) diduga kuat telah disunat oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab sebesar Rp. 120 juta.

Dari berbagai keterangan yang berhasil dihimpun Harian Warta Nasional menyebutkan, dana bantuan BSPS sebesar Rp. 600 juta itu untuk memperbaiki 80 unit rumah warga. Masing-masing rumah mendapat bantuan biaya perbaikan sebesar Rp. 7,5 juta. Dalam pelaksanaannya di lapangan dipotong Rp. 1,5 juta per unit. Jadi yang sampai ke masyarakat sebagai penerima bantuan hanya Rp. 6 juta per unit. Itupun tidak diterima dalam bentuk uang tunai, hanya dikirim berupa bahan material dari sebuah toko material di Desa Wanayasa atas pesanan seseorang.

Disebutkan, beberapa pihak diduga turut terlibat dalam pemotongan dana bantuan program Rutilahu di Desa Ciawi. Antara lain, Cecep selaku Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Desa Ciawi sebagai panitia pelaksana di lapangan, Agus yang menjabat sebagai Kepala Desa Ciawi, kemudian Evi warga Desa Cibogo Kecamatan Plered. Evi disebut-sebut sebagai kader Ormas Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Purwakarta yang memiliki akses sampai ke pihak Kemenpera RI dalam kegiatan program Rutilahu di Kabupaten Purwakarta.

Salah seorang warga penerima bantuan Rutilahu, Latip (31 tahun), ketika dihubungi di rumahnya di Kampung Ciawi Rt.12/Rw.04 Desa Ciawi baru-baru ini, kepada Harian Warta Nasional mengatakan, bahwa dalam kaitan program Rutilahu dirinya tidak pernah melihat bentuk uang bantuan senilai Rp. 7,5 juta. Yang diterima dirinya hanya berupa bahan material yang jika diuangkan nilainya hanya berkisar Rp. 6 juta.

“Jangankan menerima, melihatnya pun tidak pernah uang sebesar Rp. 7,5 juta itu. Saya hanya menerima bahan materialnya saja yang disuplai dari toko material di Desa Wanayasa milik Bu Hj. Olih. Itupun setelah saya hitung-hitung paling jumlahnya hanya sekitar Rp. 6 jutaan,” kata Latip.

Ketika ditanyakan siapa orang yang menyuruh Hj. Olih menyuplai bahan material kepada dirinya, Latip menerangkan bahwa orang yang menyuruh Hj. Olih adalah Evi. “Bu Evi yang menyuruhnya. Menurut pengakuan Bu Evi, dia itu orang Muslimat NU. Bu Evi-nya sendiri pernah datang ke sini mengecek bahan-bahan material yang sudah saya terima.

Saya juga pernah menanyakan ke Bu Evi kenapa bahan material yang dikirim cuma senilai Rp. 6 jutaan, tidak Rp. 7,5 juta. Waktu itu Bu Evi beralasan bahwa bahan material yang dikirim untuk tahun 2015 ini memakai harga nasional, tidak memakai harga lokal,” ujar Latip menerangkan.

Ketika hal ini dikonfirmasikan ke Hj. Olih, pemilik toko bahan bangunan di Desa Wanayasa tersebut kepada Harian Warta Nasional mengakui memang dirinya yang menyuplai material ke Desa Ciawi atas pesanan Evi. Namun dia keberatan menyebutkan jumlah nominal uang atas pengiriman material ke tiap-tiap rumah di Desa Ciawi yang jumlahnya mencapai 80 unit, sesuai kesepakatan yang dibuat dengan Evi.

“Saya hanya disuruh mengirim saja sesuai jumlah pesanan yang dipesan Bu Evi. Untuk jumlah uang yang dibayar oleh Bu Evi per satu rumahnya saya tidak bisa menjelaskannya. Tanyakan saja langsung ke Bu Evi,” cetus Hj. Olih saat ditemui di tokonya, belum lama ini.

Saat ditanyakan sampai sejauh mana kedekatan dirinya dengan Evi sehingga bisa menjadi suplier bahan material dalam program Rutilahu di Desa Ciawi, Hj. Olih mengakui kedekatannya karena sesama pengurus Ormas Muslimat NU. “Saya kenal dengan Bu Evi karena sesama pengurus Muslimat NU. Bu Evi pengurus untuk tingkat kabupaten, sementara saya pengurus di tingkat kecamatan. Ya mungkin daripada dikasih ke orang lain yang jadi supliernya, enggak ada salahnya toh kalau dikasih ke saya yang sama-sama aktif di Muslimat NU,” papar Hj. Olih pada Harian Warta Nasional.

Guna berimbangnya pemberitaan, Harian Warta Nasional mencoba untuk meminta konfirmasi baik kepada Evi maupun Agus selaku Kepala Desa Ciawi. Namun ketika bahan konfirmasi sudah dikirimkan via sms ke ponsel keduanya, yang bersangkutan tidak pernah membalasnya. Bahkan kepada Kepala Desa Ciawi, Harian Warta Nasional sudah beberapa kali mencoba menemui ke rumah maupun kantor desanya, Agus tidak pernah berada di tempat. Yang bersangkutan sangat sulit untuk ditemui.(NANA CAKRANA)

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY