Cabai Rawit Sibolga Rp30 Ribuan Susah Laku, di Jawa Selangit

Cabai Rawit Sibolga Rp30 Ribuan Susah Laku, di Jawa Selangit

1454
0
SHARE
Cabai Rawit asal Kota Sibolga
Cabai Rawit asal Kota Sibolga

Sibolga, (WN) – Saking mahalnya harga cabai rawit, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendatangi Pasar Induk Kajen di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Presiden juga meminta untuk menyiasati kenaikan harga komoditas itu. “Nggak usah beli cabai rawit. Belinya cabai yang hijau, yang merah juga pedes, sama saja,” ujar Jokowi di Pekalongan.

Hasil pantauan Harian Warta Nasional di berbagai daerah di Pulau Jawa harga cabai rawit selangit mulai dari kisaran harga Rp130 ribu/kg hingga Rp 200 ribu/ kg.

Seperti di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan berada di kisaran Rp130 ribu/kg, di Kabupaten Purwakarta Rp 150 ribu/kg, di Pasar Induk Kramat Jati Rp120 ribu/kg, PD Pasar Jaya, Johar Baru, Jakarta Pusat, Rp 160 ribu/kg, Pasar Rawa Badak 130 ribu/kg, Pasar Glodok 140 ribu/kg.

Bahkan harga cabai rawit tertinggi di Indonesia ada di pasar di Raja Ampat dan di Nunukan, Kalimantan, yang sudah menembus Rp 200 ribu/kg.

Padahal, harga cabai di Kota Sibolga dan di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara harga cabai rawit sangat murah dan masih dikisaran Rp 30 ribu – Rp 38 ribu/kg. Itupun sangat susah laku dijual dipasar pasar tradisional.

“Aneh ya, disini kita jual cabai rawit hanya Rp 38 ribu/kg saja pembelinya sudah tak mau. Kadang kita jadi iri dengan penjual cabai rawit di Pulau Jawa sana, yang harganya sampai Rp 200 ribu per kilo,”ujar Minar, pedagang cabai rawit di Pasar Nauli Sibolga, Sumatera Utara, Selasa (10/1/2017).

Kata Minar, memang sempat hargai cabai rawit naik sebesar Rp 2000 itu pun terjadi pada perayaan Natal yang lalu. Sekarang harga cabai malahan turun drastis, ujar Minar yang mengaku membeli cabai rawit dari petani di Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan.

Sedangkan Pandapotan, salah seorang pedagang Cabai Rawit mengatakan, karena sekarang sudah musim hujan, kami menjual cabai rawit sangat murah karena takut busuk.

“Memang ini karena meusim hujan lagi atau cuaca yang tidak menentu ini, hargapun jadi murah. terus petani takut cabainya busuk, jadi dijual murahlah,” kata Pandapota. (Rekson)

 

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY