Busyet, Utang Indonesia di Luar Negeri Mencapai 311,5 Miliar Dolar

Busyet, Utang Indonesia di Luar Negeri Mencapai 311,5 Miliar Dolar

975
0
SHARE
Petugas melakukan pengiriman uang tunai di Cash Stock kantor pusat Bank Rakyat Indonesia (BRI), Jakarta. foto : UKON FURKON SUKANDA/INDOPOS

Palembang (WN) – Dari sejak zaman orde baru hingga sekarang Indonesia selalu terlilit utang luar negeri yang nilainya sangat fantastis.

Untuk saat ini posisi utang luar negeri Indonesia per Februari 2016 tumbuh 3,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi 311,5 miliar dolar.

Hasil publikasi Bank Indonesia menyebutkan, angka itu dipicu oleh meningkatnya pembiayaan untuk jangka panjang.

Utang Luar Negeri (ULN) jangka panjang mencapai 273,2 miliar dolar AS hingga Februari 2016 atau tumbuh secara tahunan sebesar 5,8 persen, dikutip dari publikasi statistik BI, Senin.

ULN jangka panjang memiliki porsi signfikan dalam komposisi utang Indonesia, yakni 87,7 persen dari total utang.

“Sementara ULN berjangka pendek turun 9,5 persen (yoy) menjadi USD38,3 miliar,” tulis pubikasi BI.

Dari sisi peminjam, ULN Indonesia masih didominasi oleh swasta, yakni sebesar 52,8 persen dari total ULN, meskipun realisasi dari swasta terjadi penurunan secara tahunan.

Posisi ULN swasta turun 0,7 persen sehingga menjadi 164,6 miliar dolar AS pada akhir Februari 2016.

Sementara, ULN sektor publik (termasuk pemerintah) meningkat 9 persen (yoy) sehingga posisinya pada akhir Februari 2016 menjadi sebesar 146,9 miliar dolar AS. ULN Publik memiliki porsi 47,2 persen dari total ULN.

Pada sektor swasta, ULN banyak diserap oleh industri sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,1 persen.

Bila dibandingkan dengan Januari 2016, pertumbuhan tahunan ULN sektor listrik, gas dan air bersih meningkat, sementara sektor keuangan melambat. Adapun pertumbuhan tahunan ULN sektor pertambangan dan sektor industri pengolahan masih mengalami penurunan.

Bank Sentral memandang ULN per Februari 2016 sehat, namun tetap mewaspadai risikonya terhadap perekonomian, khususnya ULN sektor swasta. (ant/rekson)

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY