Banyak Kesalahan Argumentasi Tentang IHT

Banyak Kesalahan Argumentasi Tentang IHT

114
0
SHARE

KUDUS, (WN) – Peneliti Pusat Studi Kretek Indonesia (Puskindo) Universitas Muria Kudus (UMK), Zamhuri, mengatakan, selama ini banyak argumen yang salah dan hanya berdasarkan emosi belaka mengenai Industri Hasil Tembakau (IHT).

“Banyak pandangan (argumentasi) yang salah terhadap kretek yang hanya berbasis stigma negatif dan emosi. Dalam kalimat ‘Merokok Membunuhmu’, misalnya, ini sangat tidak beralasan. Kalau gara-gara merokok bisa membunuh, maka sudah jutaan orang yang mati karena kretek (rokok),” katanya.

Zamhuri mengemukakan, kalau IHT (rokok) dianggap bisa menjadi penyebab seseorang mengalami kematian, maka ini sebenarnya antara lain mestinya berlaku pada kendaraan bermotor. “Mengapa motor dan mobil tidak diharamkan, padahal banyak orang yang mati karena kecelakaan,” tegasnya.

Di sisi lain, lanjutnya, argumentasi bahwa merokok itu dekat dengan narkoba, juga tidak ada dasarnya. ‘’Banyak kiai perokok. Tetapi, apakah kiai-kiai yang merokok itu lantas menjadi pecandu narkoba atau bahkan menjadi pengedar narkoba?’’ tegasnya dengan nada tanya.

Parahnya, berbagai pandangan negatif dan argumentasi yang tidak berdasar, ungkapnya, menjadi landasan munculnya regulasi-regulasi yang menyudutkan IHT. Antara lain aturan soal Kawasan Tanpa Rokok (KTR), pembatasan produksi dan iklan, adanya kenaikan cukai setiap tahun yang memberatkan, hingga soal pemasangan gambar menakutkan dalam kemasan.

“Kesalahan-kesalahan dalam memandang IHT, khususnya oleh kelompok anti kretek, mestinya tidak berkepanjangan, jika mereka bisa melihat secara lebih fair terhadap realitas IHT yang merupakan temuan anak bangsa dan produk asli Indonesia,’’ tuturnya.

Ghifari Yuristiadhi, peneliti kretek dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pada seminar kretek yang diselenggarakan Pusat Studi Kretek Indonesia (Puskindo) UMK belum lama ini, mengatakan, kretek itu mengandung nilai kepusakaan, jika mau melihatnya secara lebih bijak dengan tidak hanya melihat dari aspek kesehatan saja.

“Kepusakaan kretek betul-betul memenuhi dari semua unsur, yang kemudian menjadi sebuah standar warisan budaya tak benda Indonesia, bahkan dunia. Kretek sebagai warisan dan pusaka nusantara tak benda, adalah sangat mungkin. Laurajane Smith dalam bukunya Uses of Heritage tak membantah kretek sebagai warisan budaya tak benda yang dimiliki Indonesia,’’ ungkapnya.

Pendapat Ghifari ini dikuatkan oleh aktivis Indonesia Berdikari, Puthut EA. Dia mengatakan, jika kebudayaan itu adalah sistem pengetahuan, organisasi sosial, teknologi, penciptaan, sistem religi, inovasi, replikasi, dan lainya, itu semua bisa dipenuhi kretek. “Maka kretek layak jadi pusaka nusantara,” paparnya.

Puthut EA. menambahkan, bahwa proses penciptaan yang kontroversial, itu tidak bisa membatalkan seluruh eksperimen. “Kalau segala hal yang kontroversial dibatalkan, maka kebudayaan di seluruh dunia tidak akan berkembang. Penciptaan teknologi pembuatan kapal, kompas, pesawat terbang, itu kontroversial. Tetapi yang kontroversi itu tidak boleh membatalkan seluruh eksperimen. Kalau semua yang kontroversial dibatalkan, maka kehidupan akan statis,”tandasnya. (red)

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY