Badan Pengawasan Kota Batam Mengkomersilkan Lahan Hijau Untuk Bisnis

Badan Pengawasan Kota Batam Mengkomersilkan Lahan Hijau Untuk Bisnis

411
0
SHARE

BATAM, (WN) – Pertambahan jumlah penduduk Kota Batam mengakibatkan terjadinya densifikasi penduduk dan permukiman yang cepat dan tidak terkendali. Hal tersebut menyebabkan kebutuhan ruang meningkat untuk mengakomodasi kepentingannya yang berdampak kepada semakin merosotnya kualitas lingkungan.

Lahan hijau kini semakin sempit dan terbatas, karena lahan hijau dan bufferzone (penyangga jalan) telah banyak beralihfungsi menjadi sarana komersil untuk kepentingan sebagian kelompok dan golongan tertentu untuk kepentingan kelompoknya.

Hasil keterangan yang berhasil dihimpun, siapa yang sanggup melobby para pemangku kebijakan di Pemerintahan Kota Batam terutama di Badan Pengawasan (BP) Kota Batam sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat dalam pengelolaan lahan di Kota Batam, maka dia akan dapat menguasai lahan terlarang ini, dengan adanya kerjasama yang saling menguntungkan dengan pengelola lahan.

Seperti yang terjadi di area lahan hijau sepanjang jalan simpang Hutatap sampai dengan depan Ruko Mandalai Sagulung, Mitra Mall, Aviari, dan banyak lagi. Lahan tersebut telah berubah menjadi kios tempat berbisnis yang disewakan pengelola kepada masyarakat seperti di Mandalay pengelola menyewakan antara Rp 300.000 sampai dengan Rp 500.000.

Sebelumnya di sepanjang lahan tersebut telah dipajang beberapa himbauan dari Pemerintah Kota Batam bertuliskan “Dilarang Mendirikan Bangunan Diatas Lahan Ini, Lahan Ini Merupakan Taman Jalan”. Papan yang bertuliskan himbauan itu pun tidak tahu siapa yang mencabut, bahkan Pohon-pohon yang sempat di tanam pun lenyap entah kemana.

Menurut seorang satu warga Mandalay, Apeng mengatakan, saya bingungn melihat kinerja pemerintah sekarang ini, kemarin satuan Polisi Pamong Praja (Sat PP) bolak Balik melarang masayarakat yang menggunakan lahan tersebut sekarang sudah tidak ada masalah, apa memang lahan itu bisa di tempati, biar kami memberi patok untuk lapak jualan, karena kami juga masyarakat Mandalay, kami juga butuh cari makan, jangan-jangan ada yang bermain dengan pemerintah disini, katanya.

Sama halnya dengan penuturan Albert warga Tiban Centre, sebelum lahan ini digunakan keindahan tiban centre sangat enak di pandang, tetapi sekarang ruko telah ditutupi oleh bangunan kios.Ujar Albert.

Andi salah seorang tokoh masyarakat Batu Aji mengatakan kepada Warta Nasional, Pejabat pemberi ijin, baik Badan Pengawasan Batam maupun Pemko Batam perlu penyelidikan yang serius dari pihak kejaksaan. Diduga kuat, pengalokasian lahan ini hanya untuk kepentingan orang lain atau kelompok tertentu dengan iming-iming adanya bagi bagi keuntungan setiap bulannya.

Kalau kami melihat sama sekali tidak membawa keuntungan secara langsung terhadap kemajuan kota Batam, karena retribusinya tidak jelas masuk kemana, dan akan mematikan bisnis yang telah di investasikan di lahan- lahan resmi yang telah di tentukan pemerintah kota Batam.

Hal ini juga telah bertentangan denganPeraturan Pemerintah.Republik Indonesia no.53 tahun 2010 tentang disiplin pegawai negeri sipil. Dalam Bab II bagian kedua Pasal 5 dan 6 tentang larangan bagi PNS yang berbunyi, setiap PNS dilarang memiliki, menjual, membeli, menggadaikan, menyewakan, atau meminjamkan barang- barang baik bergerak atau tidak bergerak, dokumen atau surat berharga milik negara secara tidak sah.

Dilarang melakukan kegiatan bersama dengan atasan, teman sejawat, bawahan, atau orang lain di dalam maupun di luar lingkungan kerjanya dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan, atau pihak lain, yang secara langsung atau tidak langsung merugikan Negara.

Kami masyarakat Batu Aji bekerjasama dengan beberapa LSM di Kota Batam dalam waktu dekat akan mengumpulkan bukti-bukti kuat untuk selanjutnya kami serahkan kepada pihak yangn berwenang, kata Andi.

Ketika Warta Nasional mencoba mendatangi kantor Direktur Pemukiman dan Agribisnis Tato Wahyu Di gedung Badan Pengawasan Batam untuk keperluan konfirmasi, Tato selalu rapat dan tidak pernah bisa di temui. (RIDWAN)

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY