Awas Pertumpahan Darah di Papua

Awas Pertumpahan Darah di Papua

234
0
SHARE

SORONG, (WN) – Pertumpahan darah antara warga masyarakat dan aparat penegak hukum dikhawatirkan bakal pecah pada hari Minggu (15/2/2015) di tanah Cenderawasi, tepatnya di Distrik Sorong Barat, Kota Sorong, Papua Barat.

Pasalnya, Polri tetap ngotot melakukan eksekusi terhadap Ajun Inspektur Satu (Iptu), Labora Sitorus terpidana 15 tahun pada hari itu, sebaliknya warga masyarakat Sorong dan karyawan PT Rotua juga siap melakukan perlawanan demi melindungi Labora Sitorus karena kasus hukum yang dijalani Labora penuh rekayasa dan murni persaingan usaha kayu.

Kepala Kepolisian (Kapolda) Papua Barat Brigadir Jenderal Paulus Waterpauw sudah menetapkan hari minggu tersebut sebagai batas waktu eksekusi terhadap Labora Sitorus. “hari itu, ratusan aparat kepolisian akan dikerahkan ke perkampungan warga untuk menjemput paksa Labora, ujar Kapolda.

Informasi Harian Warta Nasional menyebutkan, ketika berita Laboras di bonsai media seperti sekarang ini, karena tidak di eksekusi penjara, banyak yang kebakaran jenggot. Labora dituduh telah melarikan diri.

Namun, faktanya, Labora saat ini masih ada di rumahnya didalam perlindungan warga masyarakat Sorong dan tidak benar melarikan diri. Labora dianggap dermawan oleh masyarakat sekitarnya karena telah membantu warga miskin dengan membangun rumah penduduk, rumah ibadah, menyekolahkan warga sekitar hingga kulia.

Dari sejak dahulu warga Sorong, Papua memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi dan beberapa daerahnya terisolasi dari peradaban dengan suku primitif. Di saat negara absen memperhatikan rakyatnya, ada Labora yang dianggap sebagai pahlawan semacam Robin Hood.

“Labora sulit dijemput karena dia dilindungi oleh warga masyarakat. Persoalannya, Labora dianggap dermawan oleh masyarakat, semacam Robin Hood, sehingga dilindungi,” ujar Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly, Selasa (10/2/2015).

Perlawanan warga masyarakat Sorong di buktikan. Ribuan massa dan karyawan PT Rotua melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor Distrik Sorong Barat. Mereka meminta agar kejaksaan tidak mengeksekusi Labora karena kasusnya yang penuh dengan rekayasa.

“Kami siap pertumpahan darah jika Labora dieksekusi. Kami tidak mengerti berkas yang dipakai dalam persidangan ini berkas milik siapa? Sebab di dalam berkas tersebut tertera bahwa Labora adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemda Sorong dan berpendidikan S1.

Padahal kenyataannya Labora adalah anggota polisi aktif dan hanya berpendidikan SMA,” kata Juru Bicara Labora, Fredy Fakdawer di sela-sela unjuk rasa tersebut, Senin (9/2/2015).

Demonstran ini meminta agar Ketua DPRD Kota Sorong dapat memfasilitasi perwakilan PT Rotua dan masyarakat untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Mereka juga minta Jokowi untuk membentuk tim independen guna menijau kembali perkara Labora.

Labora Sitorus saat di wawancarai wartawan mengaku bahwa proses hukum dihadapi sekarang ini hukum rimba. Kalau status orang sudah ditentukan kan wajib harus di BAP sebagai tersangka. Saya di BAP sebagai tersangka saja enggak pernah apalagi diperiksa,” kata Labora, Jumat (6/2/2015).

Dia juga mempertanyakan landasan hukum yang digunakan Mahkamah Agung (MA) untuk melakukan eksekusi kepadanya. “Dari mana Mahkamah Agung (MA) mengetahui bahwa saya bersalah, diperiksapun saya tidak pernah jadi saya anggap itu hukum rimba. Jadi kalau mereka datang hukum rimba, tembak saja saya di sini,” imbuhnya.

Labora mengatakan bahwa petugas dari kejaksaan dan anggota kepolisian sering menyambangi kediamannya dengan alasan silaturahmi, dan tidak ada yang memintanya kembali ke lapas. Kedatangan pihak kejaksaan hanya sekedar menjenguk. Dan pihak Kejaksaan yang ‘menjenguk’ tidak pernah menyinggung dirinya harus segera kembali ke lapas.

PN Sorong memvonis Labora hukuman dua tahun penjara plus denda Rp50 juta. Dia nyata melanggar UU Migas dan UU Kehutanan. Di pengadilan terbongkar, Labora punya duit di rekeningnya pribadi Rp 17 juta bukan sebesar Rp1,5 triliun yang dituduhkan. Sementara 13 September 2014, Mahkamah Agung memberatkan hukuman Labora menjadi penjara 15 tahun. Plus denda Rp5 miliar. (Son)

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY