3 Ahli Buktikan Jessica Tidak Bersalah Sedikitpun

3 Ahli Buktikan Jessica Tidak Bersalah Sedikitpun

4377
0
SHARE
Jessica Kumala Wongso (kedua kanan) berjalan keluar ruang sidang.

Jakarta, (WN) – Kuasa hukum terdakwa Jessica Kumala Wongso bakal menghadirkan lagi saksi ahli toksikologi kimia, Dr. Budiawan untuk mengungkap kembali kebohongan dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (14/9/2016).

Pengacara Jessica, Otto Hasibuan bakal membuka dokumen penting atau temuan baru dari ahli untuk persidangan yang ke 20.

“Temuan baru ini akan membuka mata semua orang, karena tuhan itu baik yang membuktikan kalau Jessica tidak bersalah sedikitpun,” ujar Otto Hasibuan kepada wartawan.

Sebelumnya, dua saksi ahli yang diajukan tim kuasa hukum Jessica Ahli patologi forensik asal Brisbane, Australia, Profesor Beng Beng Ong dan ahli kedokteran forensik Universitas Indonesia, dr Djaja Surya Atmadja telah membuat kejutan mengungkap kebohongan-kebohongan dari pihak JPU.

Pasalnya, sebanyak tiga ciri-ciri khas keracunan zat sianida yang wajib harus ditemukan bagi tubuh manusia adalah warna kemerahan pada tubuh dan organ dalam, bau aroma kacang almond dan lambung bengkak, licin seperti sabun, dan warnanya merah.

Namun ketiga ciri dari hasil pemeriksaan di dalam tubuh Wayan Mirna Salihin tidak ditemukan. Maka disimpulkan bahwa Mirna bukan keracunan sianida.

“Mirna tidak meninggal akibat keracunan sianida, karena 3 ciri khas yang wajib ditemukan, tidak ada ditemukan di tubuh Mirna”, ujar Ahli Patologi Forensik Djaja Surya Atmadja di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (7/9/2016).

Menurut Djaja, warna kemerahaan yang wajib ditemukan itu disebabkan oleh timbulnya oksihemoglobin (HbO2) dalam tubuh (organ). Setelah pengawetan jenazah Mirna, warnah merah itu tidak ditemukan malah yang temukan adalah warna biru hampir kehitaman pada bibir dan ujung kuku Mirna, ujarnya.

Sedangkan bau aroma kacang almond yang wajib ditemukan ditubuh keracunan sianida, itupun tidak ditemukan ditubuh Mirna.

Kata Djaja, untuk warna lambung yang berubah menjadi merah pekat dan membengkak yang disebabkan kandungan Na (basa kuat) dan CN (asam) yang jika berkolaborasi akan menghasilkan sifat basa kuat pada lambung manusia. Itupun tidak ditemukan dalam tubuh Mirna, ujarnya.

Ketika kuasa hukum Jessica, Otto Hasibuan bertanya ke Ahli Patologi Forensik Djaja Surya Atmadja soal apakah Mirna dapat disebut meninggal keracunan sianida dari temuan sianida di sampel lambung sejumlah 0,2 miligram per liter ?.

Djaja mengatakan, jumlah sianida itu masih terlalu sedikit dan sama sekali tidak mematikan orang, baik bagi yang terkena langsung maupun orang yang ada di sekitarnya, ujarnya.

Kembali Otto bertanya, hasil temuan sianida dari ahli forensik yang dihadirkan jaksa sebelumnya. Di sana, tercatat ada lebih dari 7.000 miligram per liter sianida terkandung di es kopi vietnam yang sempat diminum Mirna ?

Djaja kembali mengatakan, temuan ahli forensic itu tidak mungkin Pak. Saya sering melakukan penelitian. Kalau kadar sianidanya sampai segitu, orang yang ada di ruangan saat itu pasti kolaps, minimal pada pingsan, tegas Djaja.

Sedangkan Profesor Beng Beng Ong telah membuktikan bahwa kematian Mirna Salihin bukan karena zat sianida.

Berdasarkan seluruh dokumen dari kepolisian yang disampaikan kepadanya dapat disimpulkan bahwa tidak ada proses otopsi.

“Kematian tersebut dapat saja bersifat alami, bukan karena sianida,” kata Beng di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (5/9/2016).

Menurut Beng, sudah ditemukan bahwa hasilnya negatif untuk empedu dan hati, cairan lambung juga kadarnya rendah.

Apabila racun sianida masuk ke tubuh melalui mulut, kecepatan meninggal korban lebih lama karena proses didalam ditubuh.

Sianida akan terlebih dahulu masuk ke darah, hati, jantung dan disebarkan ke seluruh tubuh. Itulah yang mengakibatkan efek racun sedikit lebih lambat.

Sedangkan kalau sianida masuk dari hidung akan lebih cepat membunuh seseorang. Ini karena gas sianida akan masuk ke dalam paru-paru  menghambat saluran pernafasan, ujar Beng.

Ahli patologi forensik dari Universitas Queensland, Brisbane, Australia ini mengaku sudah melakukan pemeriksaan terhadap 2.500 kasus sebelum menangani kasus Mirna.

Beng sendiri dihadirkan oleh pihak pengacara Jesica Kumala Wongso di persidangan untuk mengungkap kebohongan-kebongan yang disampaikan para ahli forensik sebelumnya. (Wilson/Rekson)

 

 

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY